DIALOG INTRARELIGIUS   Leave a comment

”Mari Pergi ke Damietta !”

Menggali Spritualitas Misi St. Fransiskus

dalam Konteks Dialog Antaragama

Pengantar

Banyak orang pada abad ke-21, setelah melihat realitas umum, semakin meyakini apa yang dikatakan oleh Samuel Hutinghon sebagai Clash Civilization. Benturan peradaban yang terjadi kerap dikategorikan sebagai berikut: antara Timur dan Barat, Dunia pertama dan dunia ketiga, antara Islam dan Kristen. Bila direfleksikan lebih jauh, benturan yang dimaksudkan oleh Hutinghon sebagai civilization pada dasarnya adalah benturan ideologi. Benturan ideologi yang diwujudkan dalam agama, kiranya sesuatu yang paling sulit untuk didamaikan karena memuat seluruh totalitas diri dan pilihan bebas manusia. Dialog yang jujur dan terbuka adalah jalan satu-satunya agar benturan ideologi tidak membawa manusia pada situasi katastropis. Tulisan sederhana ini mencoba mengangkat salah satu contoh dialog yang jujur dan terbuka yang terjadi di Damietta-Mesir pada abad ke-12. Subjek yang berdialog pada perisiwa inspiratif di Damietta ini adalah Fransiskus dan Melek-el-Kamil.[1]

Sekilas Riwayat Hidup St. Fransiskus

Fransiskus lahir di Assisi-Italia pada tahun 1181/1182. Ayahnya bernama Pietro Bernardone dan Ibunya, Dona Pica. Sebagai anak saudagar kaya, Fransiskus muda gemar berpesta dan menyanyi keliling bersama teman-temannya (Troubadour). Cita-cita awalnya adalah menjadi ksatria namun kandas. Pernah selama 1 tahun ia dipenjara oleh orang-orang Perugia setelah laskar Assisi kalah di dekat Ponte San Giovanni.

Perubahan hidupnya berawal dari mimpinya di Lembah Spoleto dan juga suara yang didengarnya dari sebuah salib bergaya Byzantin di gereja San Damiano:”Perbaikilah gereja-Ku.” Dalam proses pencarian, ia banyak merenung dan bertanya kepada imam-imam di Assisi. Tiga perikop Kitab Suci menjadi pedoman awal yang dilakoninya hingga ia wafat. Ketiga perikope tersebut adalah perihal mengikuti Yesus dan Injil perutusan (Mat. 19:21; Luk. 9:3; Mat. 16:24).

Setting Historis Perjalanan Fransiskus ke Damietta

Cara bermisi Fransiskus ke Damietta-Mesir sangat berbeda dengan ‘cara bermisi’ Gereja waktu itu. Gereja pada waktu itu memasuki fase V dari Perang Salib. Tujuan utamanya adalah agar pusat-pusat kekristenan dikuasai. Jalan apapun ditempuh Gereja pada masa itu asal tujuan tersebut tercapai. Menjadi prinsip umum Gereja pada masa itu bahwa orang-orang muslim, bila tidak mau menjadi Kristen, lebih baik dibunuh. Cara bermisi Gereja dengan mengobarkan perang atau membunuh, yang pada masa kini mungkin dinilai ‘brutal’, sudah dimulai pada tahun 1905 yaitu Perang Salib I. Perang ini dipicu oleh pidato Paus Urbanus II. Serangkaian Perang Salib pun terjadi selama abad ke-12. pada tahun 1215, Paus Innocentius III merencanakan  Perang Salib yang baru yang dalam konsili akan diputuskan akan diwujudkan pada tahun 1217. Meskipun Paus Innocentius III meninggal pada 1216, rencana konsili tersebut direalisasikan oleh suksesornya, Paus Honorius III. Pada tahun 1218, laskar Perang Salib mendarat di Mesir dan mengepung Damietta. Entah dengan cara bagaimana, di tempat yang sama dan pada waktu yang sama, Fransiskus tiba di Damietta. Diduga, ia ikut entah secara resmi atau diam-diam dengan rombongan laskar Perang Salib. Yang hendak ia jumpai adalah tokoh yang menjadi musuh utama laskar Perang Salib yaitu Melek-el-Kamil (Sultan Melek yang Agung).

Fransiskus dan Melek-el-Kamil

Kisah perjumpaan Fransiskus dan Melek-el-Kamil dilaporkan oleh Jacques de Vitry yang bertemu dengan Fransiskus sebagai berikut:

Fransiskus berjalan dari Damietta menuju perkemahan sultan. Ia tanpa senjata. Di          tengah jalan, ia ditangkap oleh pasukan Islam dan dibawa ke hadapan sultan. Sultan         sendiri amat tepesona dengan penampilan Fransiskus dan mau mendengar khotbah           Fransiskus tentang Kristus. Akhirnya, sultan sendiri menjamin keselamatan           Fransiskus untuk kembali ke perkemahan laskar Perang Salib.

De Vitry, yang tentunya dipengaruhi oleh konsep teologis Gereja pada waktu itu, menambahkan bahwa sultan juga meminta Fransiskus untuk berdoa baginya agar ia mendapat wahyu Allah untuk memberitahukan iman manakah yang paling menyenangkan Allah. Sebenarnya Fransiskus dalam arti tertentu menantang sultan untuk ke luar dari struktur dan institusi-institusi manusia yang telah bertaut erat dengan keyakinan religius untuk sampai pada konteks iman yang murni. Walaupun sultan menolak hal tersebut, namun ada buah yang dialami baik Fransiskus maupun sultan dari dialog tersebut.

Buah-buah Dialog bagi Fransiskus dan bagi Sultan

Dialog antara Fransiskus dan sultan terjadi dalam suasana saling menghormati. Dialog tersebut adalah pertemuan dua pribadi yang diilhami oleh semangat courtesia-penghormatan dan perhatian akan martabat yang lain. Pertemuan dua pribadi tersebut sepenuhnya menjadi awal pertemuan roh, satu penghormatan timbal balik akan identitas orang lain lepas dari apapun keyakinan religius orang tersebut.

Adalah hal yang luar biasa bahwa sultan meminta Fransiskus mendoakannya agar Allah memberitahukan iman yang paling menyenangkan Allah kepadanya. Sikap terbuka seperti ini dalam konteks Perang Salib dan status Kamil sebagai sultan agung (Melek-el-Kamil), adalah mukjizat besar. Bagi Fransiskus sendiri, pengalamannya di Damietta sunggguh membuka cakrawala imannya. Ia sungguh tersentuh dengan sikap-sikap religius kaum muslim: panggilan untuk beribadat dengan azan, penghayatan terhadap Allah yang transenden, dan rasa hormat yang sangat dalam terhadap Kitab Suci Al-Qur’an. Pengakuan dan pengalaman ini diterapkan Fransiskus dan para saudaranya yakni menyembah Allah dengan bersimpuh serendah-rendahnya, mengajak orang-orang memuji Allah dengan lonceng, menghormati setiap huruf dalam Kitab Suci. Semua ini mengalir dari penghayatannya akan Allah yang sungguh transenden. Sebelum ke Damietta, Fransiskus sungguh digelorakan oleh keagungan imanensi Allah dalam inkarnasi Kristus. Setelah ke Damietta, penghayatannya akan Allah semakin lengkap. Ia digelorakan oleh keagungan transendensi Allah. Transendensi Allah diungkapkan oleh Fransiskus dalam doa-doanya seperti: Allah yang Mahatinggi, Allah yang Mahakudus, penuh kemuliaan, Mahaluhur, Mahakekal dan sebagainya. Dalam aturan hidup tahun 1221, tiga tahun setelah peristiwa Damietta, Fransiskus menulis demikian: ”Hanya Dialah Allah yang sejati, tak berawal dan berakhir. Ia tidak berubah, tak terlihat, tak tergambarkan dan tak terlukiskan, tak terpahami, tak terduga, yang paling mulia dan pantas untuk menerima segala pujian.” Penuturan yang bergaya apofatik ini sangat jelas menekankan transendensi Allah.

”Mari Pergi ke Damietta”

Sengaja saya pilih judul ini untuk mengungkapkan ajakan belajar berdialog dari peristiwa di Damietta. Pesan penting yang bisa dipegang dari peristiwa Damietta sebagai esensi dialog adalah sikap saling menghormati yang jujur dan keterbukaan untuk menghayati Allah yang satu secara lebih murni; yang tidak hanya berurusan dengan pemikiran manusia yang sering kali melilit iman, tetapi dengan realitas dasar yang berada di dasar keyakinan religus. Sultan dan Fransiskus saling mengakui makna dan kebenaran religius dalam keyakinan mereka masing-masing. Dalam aturan hidup tahu 1221, Fransiskus mengajak para saudaranya yang pergi ke kalangan orang muslim, menghindari pertengkaran dan perdebatan; memberi kesaksian atas iman Kristen mereka tidak dengan perdebatan teologis yang kerap buntu tetapi dengan kehadiran yang bersahaja, membawa damai dan kesediaan untuk melayani.

Dalam dialog di Damietta, sangat jelas tidak ada yang kalah. Kedua pihak keluar sebagai pemenang karena keduanya sama-sama berusaha untuk sampai pada pemahaman timbal balik akan sebuah kebenaran yang tertinggi. Fransiskus menjadi yakin bahwa Islam juga memiliki tempat tersendiri dalam rencana Allah. Sultan meminta Fransiskus untuk berdoa baginya, dan Fransiskus meminta agar orang Kristen bersatu dalam doa dengan orang-orang dari segala penjuru dunia.

Dialog seperti ini akan membuka jalan untuk meneruskan pertobatan kepada Yang Transenden. Dialog antaragama semestinya merupakan suatu proses konsientasi, dimana subjek-subjek yang berdialog dibangkitkan untuk memiliki kesadaran yang lebih besar atas keterlibatan mereka dalam hidup yang mengatasi semua perbedaan.

Penutup

Di dunia ini, ketika pengkotak-kotakan masyarakat berdasarkan agama terjadi, ketika sikap saling curiga mengemuka, ketika ’perang salib’ baru mulai dipicu, peristiwa Damietta sungguh memberi inspirasi yang aktual dan konkrit. Tidak ada kata ’tidak mungkin’ untuk membangun dunia yang damai; sebab hati yang merindukan kebenaran sejati dan kasih, selalu menemukan jalan, memberikan solusi yang mengatasi sekat-sekat pemisah. Tidak dapat disangkal, pada dasarnya,  semua manusia, dari kodratnya selalu merindukan Sang Kebenaran Sejati yang adalah Sang Kasih. ”Mari pergi ke Damietta !


[1] Sumber utama tulisan ini adalah karya Paul Rout, Fransiskus dan Bonaventura (Yogyakarta: Kanisius, 2001).

Posted April 5, 2010 by paulsaragih in Dialog Intrareligius

HANUKKAH DAN YESUS   Leave a comment

1.         Catatan Awal

Tulisan ini diberi judul Hanukkah[1] dan Yesus. Perikop yang akan didalami secara khusus adalah Yoh 10:22-38. Di sini akan dipaparkan perdebatan mengenai kemesiasan Yesus dalam hubungannya dengan hari raya Pentahbisan Bait Allah. Perlu diingat bahwa perikop ini ditempatkan dalam bagian yang lebih besar yaitu Yoh 10:1-38 yang oleh John Mars diberi judul Gembala yang Baik.[2] Perikop Yoh 10:22-38 ini merupakan bagian penutup perdebatan di Yerusalem antara Yesus dan para lawan-Nya (7:1-10:42). Yoh 10:22-42 berfungsi mengantar keempat alegori[3] langsung kepada para lawan. Perikop ini menjadi klimaks dari perdebatan Yesus di Bait Allah tentang identitas-Nya dan mengantar para komplotan yang muncul karena pembangkitan Lazarus dalam bab 11.[4] Harus disadari bahwa Injil Yohanes ibarat suatu tenunan yang tidak mungkin memutus salah satu benangnya. Setiap episode Injil Yohanes, seolah-olah mengandung di dalamnya seluruh Injil.[5]

Penulis tidak akan memberikan eksegese ayat per ayat untuk perikop 10:22-38 dalam tulisan ini. Penulis membatasi diri pada hubungan antara Yesus dengan hari raya Pentahbisan Bait Allah. Atau dengan rumusan  lain yang interpretatif, pentahbisan Yesus sebagai Bait Allah yang baru.

2.         Pembagian Perikop Yoh 22:10-38 Berdasarkan Aksi dan Karakter[6]

Ay 22-23: Setting: Pada musim dingin[7] dan pada hari raya Pentahbisan Bait Allah. Yesus berada di Bait Allah.

Ay 24: ’Orang-orang Yahudi’ memasuki kisah dan mengajukan pertanyaan tentang Mesias.

Ay 25-30: Jawaban Yesus yang mengandung raison d’etre status mesianis-Nya

Ay 31-38: Yesus menunjuk pada karya-karya-Nya sebagai bukti kesatuaan-Nya dengan Bapa (32, 34-35, 37-38) sementara orang-orang Yahudi mencoba melempari-Nya (31, 33) dan menuduh-Nya penghojat (33, 36).

3.         Sekilas tentang Hari Raya Yahudi dalam Injil Yohanes dan Hubungannya           dengan Yesus

Beberapa bagian Injil Yohanes berpusat pada hari raya orang Yahudi yaitu Paskah, Pentekosta, Pondok Daun, dan Pentahbisan Bait Allah. Semua hari raya ini dirayakan di Bait Allah di Yerusalem. Penulis Injil Yohanes mengisahkan bahwa Yesus hadir pada aneka hari raya tersebut dan memberi makna baru di dalamnya. Dalam Yoh 2:13 Yesus pergi pertama kalinya ke Yerusalem menjelang hari raya Paskah. Pada momen ini, Yesus mengusir bukan hanya para penukar uang dan penjual kambing domba (2:14) tetapi juga lembu-lembu dan kambing-kambing serta domba. Padahal hewan-hewan tersebut akan dipersembahkan sebagai korban pada hari raya Paskah (bdk. Ul 16:2). Injil Yohanes berbicara tentang tiga hari raya Paskah. Paskah yang terakhir adalah hari kematian Yesus. Dengan kematian-Nya, semua korban Paskah Perjanjian Lama, digantikan.[8]

Hari raya lain juga berperan juga dalam beberapa episode karya Yesus di hadapan umum. Menurut Yoh 5:1, Yesus pergi ke Yerusalem untuk suatu hari raya. Agaknya hari raya Pentekosta. Sesungguhnya hari raya Pentekosta merangkum tujuh hari Sabat. Hari raya ini juga disebut pesta Tujuh Minggu karena berlangsung selama tujuh pekan. Perdebatan yang diceritakan dalam bab 5 bertitik tolak dari peristiwa pelanggaran hari Sabat yang dilakukan oleh Yesus yakni dengan menyembuhkan seorang lumpuh. Dengan tindakan penyembuhan ini, Yesus mau menyatakan bahwa diri-Nya adalah Tuan atas hari Sabat. Hal ini bertitik tolak dari argumentasi orang Yahudi sendiri. Orang Yahudi meyakini bahwa Allah adalah pencipta, penopang, dan pemelihara segala sesuatu. Jika Allah tidak mencipta, menopang dan memelihara segala sesuatu sehari saja termasuk hari Sabat, maka dunia akan hancur. Kesimpulannya, Allah tidak pernah berhenti memelihara bahkan pada hari Sabat. Seperti Bapa Bapa menopang, dan memelihara segala sesuatu, demikian juga Yesus. Yesus mau menunjukkan pemeliharan-Nya atas kehidupan dengan tindakan konkrit yakni menyembuhkan si lumpuh.[9]

Hari raya yang ketiga adalah Pondok Daun. Hari raya ini mengingatkan masa tinggalnya bani Israel di padang gurun. Selama delapan hari, orang Israel menghayati kembali perjalanan mereka melalui gurun dengan tinggal dalam pondok-pondok yang beratapkan dedaunan. Pada pesta ini, orang Israel meminta air agar panenan mereka membawa hasil berlimpah-limpah. Latar belakang peribadatan ini menolong kita untuk memahami penyataan Yesus di dalam Bait Allah pada hari terakhir hari raya (7:37).[10]

Pada Yoh 10:22 dikisahkan bahwa Yesus menghadiri pula hari raya Pentahbisan Bait Allah. Pada hari raya ini dirayakan pentahiran dan pentahbisan Bait Allah yang diadakan sesudah kenisah dinodai di zaman Antiokhus Epiphanes. Pada kesempatan hari raya ini, Yesus menyatakan diri sebagai Yang Diutus dan Dikuduskan Bapa (bdk. 10:36). Ini suatu sentilan bahwa Yesus adalah satu-satunya “Tempat yang suci dan kudus” sejauh berbicara tentang tempat.[11]

Demikianlah penginjil Yohanes memanfaatkan unsur-unsur peribadatan Yahudi dengan segala kekayaan yang terkandung di dalamnya untuk menjelaskan misteri Yesus. Setelah memahami secara umum gambaran umum peribadatan Yahudi dalam hubungannya dengan Yesus, pada bagian berikut penulis akan memfokuskan diri pada hari raya Pentahbisan Bait Allah dan hubungannya dengan Yesus.

4.         Hanukkah (Hari Raya  Pentahbisan Bait Allah)

4.1.      Nama

Dalam Kitab Suci Bahasa Indonesia edisi LAI, hari raya yang dihadiri Yesus pada Yoh 10:22-38 disebut Hari Raya Pentahbisan Bait Allah. Dalam Novum Testamentum Latine: Textum Vaticanum cum apparatu critico ex editionibus et libris manu scriptis collecto imprimendum curavit editio nona, hari raya Pentahbisan Bait Allah disebut Encaenia atau Encenia. Dalam bahasa Ibrani disebut Hanukkah.

Terminologi Hanukkah pertama kali ditemukan dalam Megillat Ta’anit, sebuah sebuah teks dari abad I M, yang didalamnya hari raya tersebut termasuk di antara hari-hari raya dimana puasa dilarang. Tidak dapat diragukan bahwa terminologi Ibrani ini sudah digunakan dalam teks asli kitab 1 Makkabe, yang sekarang telah hilang. Kata Hanukkah biasanya diterjemahkan dalam Bahasa Inggris menjadi Dedication atau Consecration. Terminologi Yunani yang dipilih para penerjemah antik yakni Egkainismos (1 Mak 4:56, 59; 2 Mak 2:19; atau Egkainia (Yoh 10:22). Kata ini memiliki hubungan sebagai kata kerja dengan 1 Mak 4:36, 54, 57. Dalam kata Egkainia termuat unsur pembaharuan atau restorasi. Namun muatan terminologi untuk hari raya ini dalam Bahasa Ibrani atau Yunani tidak tampak memiliki arti yang persis sama.[12]

4.2       Latar Belakang Sejarah Hari Raya Pentahbisan bait Allah

Hari raya Pentahbisan Bait Allah merupakan hari raya yang terakhir lahir dalam tradisi keagamaan Yahudi. Perayaan ini ditetapkan untuk mengenang pentahbisan ulang Bait Allah setelah kampanye yang sukses dari Yudas Makkabeus untuk merebut Yerusalem pada tahun 165 atau 164 SM. Pada tahun 175 SM Antiokhus IV naik takhta di Syria (175-164 SM). Ia memiliki ambisi untuk memperluas daerah kekuasaannya hingga ke Mesir. Untuk mewujudkan ambisinya ini, ia mesti melakukan kontrol yang lebih tegas di daerah-daerah yang sudah menjadi kekuasaanya termasuk Israel (lih. 1 Mak 1:41). Halangan terbesar untuk mewujudkan ambisinya adalah orang-orang Yahudi. Namun, ia melihat celah yakni korupsi yang merebak di kalangan aristokrat dan golongan imam. Iapun lantas menanggalkan jabatan imam agung dari Onias III dan memberikan jabatan tersebut kepada Josua, saudara Onias. Josua kemudian mengganti namanya dengan nama Yunani yakni Yason. Antiokhus IV kemudian membangun sebuah pusat olah raga (gymnasium) di Yerusalem (1 Mak 1:11-13). Orang-orang Yahudi pun turut serta dalam kegiatan-kegiatan di gymnasium tersebut. Antiokhus IV yang menggelari diri Epiphanes (Allah yang menampakkan diri) kemudian mendeklarasikan bahwa seluruh bangsa mesti turut menyembah dewa Yunani, Zeus Olympios. Semua ini ditempuhnya agar orang-orang Yahudi melupakan hukum dan tradisinya dan mengubah seluruh tatanan (1 Mak 1:49; 18:41-50). Penganiayaan terhadap orang-orang yang tidak mau tunduk kemudian diberlakukan dan semakin meluas. Setiap orang yang menentang dekrit tersebut dihukum mati (1 Mak 1:60-64; lih. juga 1:56-58). Pada tanggal 25 bulan Kislev 168 atau 167 SM, korban untuk Zeus dipersembahkan di Bait Allah, di atas altar kafir (1 Mak 1:29-64; 2 Mak 6:1-9).[13]

Situasi inilah yang mendorong Mattathias, seorang imam Yahudi, memprakarsai revolusi dan kelak dilanjutkan oleh putranya Yudas Makkabeus. Yudas dapat dikatakan berhasil dalam mewujudkan impiannya dan impian ayahnya. Paling lambat tahun 165 atau 164 SM, ia mengalahkan dominasi Yunani. Satu tugas yang segera dilaksanakannya yakni memurnikan Bait Allah. Altar korban yang baru pun didirikan. Areal Bait Allah dipugar. Lampu-lampu yang diletakkan untuk menyinari tempat kudus sebagai tanda restorasi Bait Allah, dipasang (1 Mak 4:46-51; 2 Mak 10:1-4). Semua ini terjadi pada tanggal 25 bulan Kislev 165 atau 164 SM, 3 atau 2 tahun setelah Antiokhus IV menodai altar suci. Perayaan yang dimulai dengan penyucian altar ini berlanjut selama 8 hari (1 Mak 4:56; 2 Mak 10:6). Sejak saat itulah hari raya pentahbisan Bait Allah dirayakan secara rutin oleh orang Yahudi setiap tahunnya (1 Mak 4:59; 2 Mak 10:8).[14]

4.3       Unsur-unsur Perayaan Pentahbisan Bait Allah[15]

Kedua kitab Makkabe memuat beberapa detail dari hari raya Hanukkah yang dirayakan pertama kalinya. Sebagai contoh, keduanya menempatkan permulaan perayaan pada tanggal yang sama, melukiskan durasi yang sama, dan menyebutkan persembahan-persembahan di atas altar yang baru. Walaupun demikian, beberapa hal dalam kedua kitab tersebut berbeda tentang Hanukkah. Hal yang patut dicatat adalah bahwa laporan dalam 1 Mak 4 :36-61 berfokus pada pentahbisan atau restorasi altar sementara dalam 2 Mak 1 :18 ; 2:16, 19; 10:3,5,7) berfokus pada penyucian Bait Allah. Salah satu contoh yang lebih menarik adalah bahwa 2 Mak, yang sungguh berbeda dengan 1 Mak, menghubungkan Hanukkah dengan hari raya Pondok Daun. Dalam 2 Mak 1:9, orang-orang Yahudi di Yerusalem mendesak sanak mereka yang ada di Mesir untuk merayakan hari raya Pondok Daun pada bulan Kislev; 1:18 menghubungkan purifikasi Bait Allah dengan Pondok Daun dan api; dan 10:6 menghubungkan asal usul hari raya selama 8 hari yang dipenuhi dengan suka cita itu dengan tata cara Pondok Daun. Ditambahkan pula bahwa waktu pendek sebelumnya, selama waktu biasa untuk hari raya Pondok Daun (bulan ketujuh hari ke-15 sampai dengan ke-22). Dilukiskan demikian: ”Mereka mengembara di bukit-bukit dan tinggal di gua-gua seperti binatang liar.’ Ayat terakhir ini menghubungkan durasi 8 hari dengan Pondok Daun dan memberi kesan akan ketidakmampuan mereka untuk merayakan hari raya Pondok Daun pada waktu yang tepat dan menuntun mereka untuk mengamati beberapa ritus Pondok Daun  sebagai Hanukkah yang pertama. Kitab 2 Mak tidak pernah secara nyata menyebut Hanukkah sebagai hari raya Pondok Daun. Tetapi hal itu secara gamblang menghubungkan dua kesempatan, yang keduanya ditandai dengan kegembiraan (Im 23:40 ; 1 Mak 4:56, 58-59; 2 Mak 10:6). Delapan hari libur tampaknya mengambil model dari inaugurasi yang dilakukan Salomo untuk Bait Allah setelah dibangun (bdk. 2 Mak 28-12). Menurut 1 Raj 8:65-66, Salomo meliburkan kumpulan orang yang berkumpul pada hari kedelapan setelah 7 hari ritus pentahbisan – hari-hari yang serupa dengan hari raya pondok daun (8:2; 2 Taw 7:8-10). Paralelisme dalam 2 Taw 7:9-10, biar bagaimanapun, menambahkan hari yang kedelapan pada hari-hari raya.

Ada juga beberapa ritual dimana kedua hari raya tersebut berbagi. Pertama, keduanya berkenaan dengan membawa ranting-ranting (untuk hari raya Pondok Daun lih. Im 23:40; Neh 8:15; Jub 16:31. Untuk Hanukkah lih. 2 Mak 10:7 dan bdk. dengan 6:7) meskipun tidak ada indikasi yang menunjukkan pembuatan pondok-pondok seperti pernah terjadi pada Hanukkah. Kedua, keduanya akhirnya memasukkan Hallel (Mzm 113-118) dalam liturginya pada hari raya Pondok Daun. Perlu dicatat bahwa judul Mzm 30 juga menghubungkannya dengan hari raya pentahbisan Bait Allah.

Hari raya Pondok Daun dan Hanukkah juga mirip satu dengan yang lain dalam hal penggunaan cahaya/lampu. Namun cahaya yang digunakan pada kedua hari raya tersebut berbeda. Hari raya Pondok Daun memasukkan cahaya untuk menyinari areal Bait Allah yang diperuntukkan bagi wanita (m. Sukk 5 :2-4), sementara Hanukkah menggunakan cahaya pada setiap ruangan Bait Allah masing-masing satu lampu. Sebagai bagian dari renovasi dan pemugaran Bait Allah sebelum perayaan berlangsung, 1 Mak 4:49-50 mencatat bahwa candelabrum dibawa ke dalam Bait Allah dan lampu-lampunya diatur sehingga mencahayai Bait Allah; 2 Mak 1:8; 10:3 menyinggung kejadian yang sama tersebut. Josephus menuliskan bahwa lampu-lampu dinyalakan pada tanggal 25 bulan Kislev dan cahayanya menjadi suatu karakteristik umum untuk kedua hari raya tersebut walaupun latar belakang munculnya kebiasaan itu telah dilupakan.

4.4        Makna Pesta Pentahbisan Bait Allah bagi Orang Yahudi

Sebagaimana dalam perayaan pondok daun (im 23:42-43), hari raya pentahbisan Bait Allah dirayakan supaya Israel dapat mengingat perlindungan Allah selama penuntunan-Nya di padang gurun. Walau demikian, hari raya pondok daun disebut sebagai pemeliharaan Yahweh atas umat-Nya selama keluaran (exsodus) sementara hari raya pentahbisan Bait Allah disebut sebagai kelanjutan pemeliharaan Yahweh selama restorasi Bait Allah dimana Yahweh tinggal bersama dengan bangsa Israel. Bait Allah menjadi bukti yang nyata akan kehadiran Allah. Unsur lain yang membedakan hari raya pentahbisan Bait Allah dari hari raya pondok daun yakni ingatan akan murtadnya orang-orang Yahudi yang cukup terpandang pada masa Antiokhus IV berkuasa. Mereka yang murtad dianggap telah menajiskan Bait Allah dan menghojat Allah Israel, Allah satu-satunya. Dengan hari raya pentahbisan Bait Allah, orang-orang Yahudi mengawaskan terjadinya penghojatan terhadap Allah Israel, Allah satu-satunya dalam diri mereka. Dengan pesta ini, orang-orang Yahudi diajak untuk tetap setia pada hukum Allah dan dengan melakukan tersebut, mereka bersama menyerukan: ”Tak akan pernah terjadi lagi.” Inilah latar belakang pola pemikiran bangsa Yahudi ketika berhadapan dengan Yesus pada hari raya pentahbisan Bait Allah (Yoh 10:22-38).[16]

5. Apakah Yesus Mesias ?

”Berapa lama lagi Engkau membuat kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.” (Yoh 10:24). Pertanyaan ’orang-orang Yahudi’ yang berkumpul di sekitar Yesus pada hari raya pentahbisan Bait Allah ini membuka dialog antara mereka dengan Yesus. Panggung kisah ini adalah di serambi Salomo di sebelah timur Bait Allah yang mengarah ke lembah Kidron.[17] Peristiwa ini terjadi 3 bulan setelah hari raya pondok daun.[18] Pertanyaan yang diajukan ’orang-orang Yahudi’ ini melanjutkan isu yang mendominasi hari raya pondok daun: Apakah Yesus itu mesias? Pertanyaan lain ialah: Apakah Yesus Putera tunggal Allah? Apakah Allah dengan cara istimewa adalah Bapa-Nya? Sebenarnya perdebatan tentang kemesiasan Yesus sudah sejak bab 7-8. Inti dialog (ay. 24-38) sungguh mirip dengan bab 7-8. ’Orang-orang Yahudi’ tersebut lupa bahwa mereka sebenarnya telah diberitahukan dengan terus terang bahwa Yesus adalah Mesias. Dalam 10:25a, secara implisit Yesus mengutarakan kedegilan hati ’orang-orang Yahudi’ yang tidak mau percaya. Pada momen di serambi Salomo, mereka tetap menolak menerima Yesus sebagai mesias. Bukan hanya sabda Yesus yang menyatakan status kemesiasan-Nya tetapi juga karya-Nya. Sabda Yesus membuat Allah dikenal manusia dan seluruh karya-Nya dikerjakan dalam nama Bapa. ’Orang-orang Yahudi’ tidak mampu percaya karena tidak mau dan tidak mampu menerima sabda-Nya. Sebagaimana Yesus menggunakan alegori mesianis tentang gembala yang baik (10:14-18), ketika berbicara dengan ’orang-orang Yahudi’ pada hari raya pondok daun, Ia kini kembali pada alegori tersebut. Mereka tidak mampu menerima sabda-Nya dan percaya bahwa Ia adalah mesias karena mereka bukan domba-Nya. Di sini, alegori dan aplikasi menyatu: domba mendengar suara gembala yang baik (ay 16) tetapi ’orang-orang Yahudi’ tidak (ay 26). Gambaran Yesus sebagai gembala yang baik memberi informasi kepada pembaca bahwa iman kepada Yesus sebagai mesias akan membawa pada hidup tetapi yang menolak untuk mengimani-Nya akan menuju kematian.[19]

Dari sini, penginjil Yohanes bergerak dari Kristologi menjadi Teologi. Sebelumnya Yesus berbicara tentang serigala-serigala yang menerkam domba-domba (ay 12). Dalam ay 28c, dikatakan bahwa mereka yang mendengar suara Yeusu tidak dapat diambil dari-Nya. Domba tersebut tidak dapat diambil karena bukan hanya karena mereka kepunyaan Yesus tetapi karena hidup yang diterima oleh orang-orang beriman dengan melekat pada Yesus adalah karunia Allah. Dalam situasi Dalam situasi dimana Bapa memberikan suatu anugerah hidup yang melekat pada Yesus, tak satu kuasapun dapat memisahkan orang beriman untuk selama-lamanya dari tangan Bapa sendiri.[20] Tak ada kuasa yang lebih besar dari kuasa Allah. Apa yang dikatakan di sini merupakan kekhasan penginjil Yohanes (yoh 6:39; 17:2, 24) yang menekankan inisiatif Allah.[21] Ketika Orang Israel merayakan kehadiran Allah pada hari raya pentahbisan Bait Allah, Yesus menyampaikan kepada ’orang-orang Yahudi’ bahwa ada cara lain dari Allah untuk hadir kepada mereka. Ada cara lain yang dapat mereka yakini bahwa mereka ada dalam naungan Bapa yaitu percaya kepada sabda Yesus. Dalam konteks pesta pentahbisan Bait Allah, ’orang-orang Yahudi’ bangga dengan dirinya bahwa di dalam Bait Allah, mereka yang telah disucikan kembali adalah milik Allah. Tetapi Yesus menegaskan bahwa iman akan sabda-Nya menempatkan orang beriman bukan hanya pada Yesus tetapi juga pada Bapa-Nya. Dalam ay 28, tangan Yesuslah yang menjamin orang beriman. Dalam ay 29, tangan Bapa yang menjamin. Ini mencakup persatuan fungsional dari Bapa dan Anak yang secara eksplisit disebutkan dalam ay 30.[22]

6.         Kemesiasan Yesus: Kesatuan Yesus dengan Bapa

Dengan pernyataan Yesus pada ay 30, mau ditekankan bahwa Israel seharusnya tidak membutuhkan lagi bangunan fisik untuk meyakinkan mereka bahwa Allah hadir di antara mereka. Yesus yang berada di hadapan ’orang-orang Yahudi’ di serambi Salomo, di Bait Allah menunjuk pada diri-Nya sendiri dan mengklaim bahwa Dialah kehadiran Allah yang dapat dilihat. Argumentasi atas klaim ini sampai pada konklusi. Tidak ada dalam pengharapan mesianis dalam Yudaisme berani mengklaim dapat menggantikan Bait Allah sendiri tetapi hal itu justru dilakukan oleh Yesus. Klaim pada bagian prolog kini nyata dalam kisah Yesus: Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” (1:14). Di sini, pertama-tama penginjil Yohanes tidak tertarik pada metafisika tetapi suatu kesatuan tujuan/rencana yang tercipta dari kesatuan cinta dan ketaatan. Setting pewartaan Yesus yang terjadi pada pesta pentahbisan Bait Allah tersebut mengarahkan pemahaman pembaca bahwa kesatuan antara Allah dan Bait Allah yang dipandang sebagai wujud kehadiran Allah dalam umat-Nya disempurnakan dalam Yesus karena kesatuan-Nya dengan Bapa.[23]

Meskipun hari raya pentahbisan Bait Allah merupakan hari raya yang paling akhir dan kurang begitu penting dibandingkan dengan hari raya lainnya dalam bab 5-10, klaim Yesus pada 10:30 membentuk dasar bagi argumen yang dikembangkan sepanjang bab 5-10. Oleh karena kesatuan yang ada antara Yesus dan Bapa, Yesus mampu dan berani mengklaim previlege-Nya atas Sabat untuk memberi hidup dan menghakimi (lih. 5:19-30); untuk menjadi roti hidup, yang menyempurnakan janji akan pewahyuan Allah yang memelihara umat-Nya dalam memberi manna dan hukum yang dirayakan dalam hari raya Paskah (lih. 6:44-50); untuk menjadi air hidup dan terang dunia (7:37-39; 8:12; 9:5), mesias yang menyempurnakan pengharapan mesianis Israel yang dirayakan pada hari raya pondok daun (10:1-21). Tetapi kenangan lain dihubungkan dengan pesta pentahbisan Bait Allah . Israel telah kehilangan Bait Allah-Nya karena pemimpin-pemimpin Yahudi mengkhianati Yahweh dan umat-Nya. Akankah ”orang-orang Yahudi, dengan merayakan hari raya pentahbisan Bait Allah tak akan pernah lagi mengkhianati  Allah mereka? Dorongan untuk melempari Yesus (ay 31) kiranya berkata lain. Sikap dan tindakan mereka ini kiranya mau mengulangi lagi profanasi yang dilakukan Antiokhus IV dan para wakilnya.[24]

7. Tanggapan ’Orang-orang Yahudi’ – Sebuah Ironi

Dialog antara Yesus dan ’orang-orang Yahudi pada hari raya Pentahbisan Bait Allah dibuka oleh pertanyaan ’orang-orang Yahudi’ sendiri (ay 24). Pada ayat 32, Yesus justru balik bertanya ketika ’orang-orang Yahudi’ hendak melempari-Nya dengan batu. Yesus bertanya kepada mereka: ”Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” Memang cukup membingungkan. Pernyataan yang mana dari Yesus yang membuat ’orang-orang Yahudi’ tersebut mau melenyapkan-Nya? (lih. 2:1-11; 4:46-54; 5:19a; 6:1-15; 9:1-7). ’Orang-orang Yahudi’ tersebut tidak menyadari kebenaran dari pertanyaan Yesus yang cukup memojokkan tersebut. Ketika mereka berkata bahwa mereka mau melempari Yesus bukan karena pekerjaan baik-Nya (ergon kalon), tetapi karena penghojatan, ’orang-orang Yahudi tersebut’ kembali jatuh pada suatu penafsiran dangkal atas hukum mereka sendiri.[25] Penghojatan yang mereka maksud kiranya terletak pada ayat 33 yaitu bahwa sebagai seorang manusia, Yesus juga ilahi. ’Orang-orang Yahudi’ tersebut kembali tidak memperhatikan klaim Yesus ketika merayakan hari raya pentahbisan Bait Allah, seraya mengingat rekonsekrasi Bait Allah yang dibangun dengan bati oleh tangan manusia. Mereka mengkhianati Allah mereka justru ketika mereka mencoba hendak melenyapkan seseorang yang sekarang tinggal di antara mereka dalam wujud manusia yang adalah Putera tunggal Allah (lih. 1:14; 8:30). Sungguh pemahaman mereka atas Yeus sebagai seorang penghojat merupakan sesuatu yang sangat ironis.[26]

Jawaban Yesus pada ayat 33-38 adalah pengembangan lebih lanjut dari apa yang telah Ia nyatakan pada ayat 30. Jika benar bahwa Yesus dan Bapa adalah satu, maka mengatakan bahwa Yesus sebagai penghojat merupakan suatu pengkhianatan yang serius terhadap Allah Israel. Yesuspun kemudian berargumentasi dengan mengikuti tekhnik berargumen orang Yahudi yaitu dari yang kecil (minor) kepada yang lebih besar (mayor) yang dalam istilah teknis disebut qal Wahomer). Dengan mengambil referensi dari ’Hukum Yahudi’, dan memaknai seluruh Kitab Suci Yahudi, Yesus mengutip Mzm 82:6 yang berbunyi: ”Kamu adalah allah.” Jika dalam Kitab Suci, umat Allah saja dapat disebut allah (ay 35-minor), apalagi Ia yang telah disucikan dan diutus Allah dan yang mengakui diri sebagai Putera Allah (ay 36-mayor). Dengan ini, ’orang-orang Yahudi’ dihakimi oleh Kitab Suci mereka sendiri. Yesus menegaskan bahwa Dia tidak hendak meniadakan tradisi asli Israel tetapi mau menyempurnakan segala sesuatu yang telah dijanjikan Allah (ay 36).[27]

8. Yesus: Bait Allah yang Hidup

Audiens penginjil Yohanes mungkin sudah akrab dengan paham Yesus sebagai seorang utusan, tetapi tidak dengan gelar ’Seseorang yang dikonsekrasi oleh Allah’. Ada implikasi yang mau ditonjolkan penginjil Yohanes dengan gelar tersebut. Banyak ahli yang kurang memperhatikan konteks hari raya pentahbisan Bait Allah, berpendapat bahwa gelar itu secara sederhana berarti ambil bagian pada rencana Bapa. Namun hari raya pentahbisan Bait Allah mengingatkan akan pengudusan altar korban yang yang telah dihinakan (sakrilegi) oleh Antiokhus IV. Kehadiran Yesus ke dunia sebagai ’Seseorang yang diutus oleh Bapa, dan kehadiran nyata Allah di dunia, hendak menyempurnakan apa yang hanya berupa tanda dan bayangan dalam tindakan penyucian Bait Allah yang dilakukan oleh Yudas Makkabeus pada tahun 165 atau 164 SM. Kini Allah hadir bukan dalam altar batu yang disucikan tetapi dalam daging dan darah Putera Allah yang telah dikuduskan dan diutus (ay 36).[28]

Yesus adalah kehadiran Putera Allah yang menghidupkan di antara mereka (ay 36b) dan tindakan-tindakan-Nya memantulkan tindakan Bapa-Nya. Jika ’orang-orang Yahudi’ ingin menunjukkan kesetiaan mereka pada Allah, Bapa Yesus, maka mereka seharusnya menerima apa yang dikatakan dan dilakukan Yesus. Jika Yesus tidak melakukan kehendak Bapa-Nya, maka ’orang-orang Yahudi’ berada dalam posisi benar jika tidak percaya kepada-Nya. Tetapi dalam kasus ini justru terjadi sebaliknya. ’Orang-orang Yahudi’ tetap tidak percaya meskipun telah melihat dan mendengar (ay 37). Adalah hal yang sangat serius bahwa ’orang-orang Yahudi’ tidak menerima kehadiran Allah yang nyata dalam karya dan warta Yesus. Mereka merayakan kesetiaan mereka terhadap Allah Israel yang hadir dalam Bait Allah, tetapi tidak mempersiapkan diri untuk menerima Allah yang tampak dalam diri Yesus. Yesus memanggil mereka untuk menerima kebenaran yang sekarang tampak dalam apa yang yang diwartakan dan dilakukan Yesus, lebih dari kehadiran Allah Israel yang hanya terjadi sekali saja dalam Bait Allah (ay 38).[29]

Hanya ada satu cara menuju Allah yaitu melalui Putera-Nya. Yesus berbicara pada audiens-Nya yang tidak percaya dan mengajak mereka untuk menerima penyataan Allah yang nyata dalam karya-karya-Nya. Jika mereka melakukan ini, mereka akan mengerti kebenaran dari ayat 30, yakni bahwa Yesus dan Bapa adalah satu: Bapa di dalam Aku, dan Aku di dalam Bapa (ay 38).[30]

9. Catatan Akhir

Laporan tentang kehadiran Allah dalam hari raya-hari raya Israel (Sabat, Paskah, Pondok Daun, dan Pentahbisan Bait Allah), mengafirmasikan bahwa tatanan lama tidak dihancurkan tetapi disempurnakan dalam diri Yesus. Penginjil Yohanes ingin menunjukkan bahwa semua semua hari raya yang dirayakan di Bait Allah menemukan kegenapannya dalam diri Yesus Tubuh Kristus adalah satu-satu-Nya Bait Allah yang hidup. Hanukkah, dalam tradisi keagamaan Yahudi, merupakan saat ketika mereka merasakan kehadiran Allah dalam wujud Bait Allah yang telah ditahbiskan, yang dulu dibangun oleh Salomo. Kehadiran Yesus pada Hanukkah menyempurnakan kehadiran Allah bagi umat pilihan-Nya. Kini Allah hadir secara sempurna bagi umat pilihan Allah dalam diri Yesus, lewat sabda dan karya-Nya. Penolakan ’orang-orang Yahudi’ atas Yesus sebagai Bait Allah yang hidup pada hari raya Hanukkah justru pengulangan mereka atas profanasi Bait Allah yang dilakukan oleh Antiokhus IV.

DAFTAR PUSTAKA

Barton, John & Muddiman, John (ed.). The Oxford Bible Commentary. Oxford-New York: Oxford University Press, 2001.

Brown, Raymond E. (ed.). The New Jerome Biblical Commentary. Great Britain: Geoffrey Chapman, 1989.

Hadiwiyata, A.S., Tafsir Injil Yohanes: Barangsiapa telah melihat Aku, Ia telah melihat Bapa Yogyakarta: Kanisius, 2008.

Mars. John. Saint John: The Pelican New Testament Commentaries. England: Penguin Book Ltd, 1968.

Moloney, Francis J. Signs and Ahadows: Reading John 5-12. New York: Fortress Press Minneapolis – Library of Congress Cataloging – in – publications Data, 1996

Morris, Leon. The New International Commentary on the New Testament: The Gospel According to John. Grand Rapids: WM. B. Eerdmans Publishing Co., 1971.

VanderKam, James C. “Dedication, Feast of” dalam David Noel Freedman (ed.), The Anchor Bible Dictionary vol. 2 D-G. New York: Doubleday, 1992.


[1] Hanukkah adalah nama Ibrani untuk hari raya Pentahbisan Bait Allah. Penulis akan membahas secara ringkas tentang nama ini pada bagian berikut.

[2] John Mars, Saint John: The Pelican New Testament Commentaries (England: Penguin Book Ltd, 1968), hlm. 87. A.S. Hadiwiyata memberi judul yang sama tetapi dengan memasukkan yat 39-42 sehingga menjadi Yoh 10:1-42). [Lih. A.S. Hadiwiyata, Tafsir Injil Yohanes: Barangsiapa telah melihat Aku, Ia telah melihat Bapa (Yogyakarta: Kanisius, 2008), hlm. 143]. Penulis mengikuti pembagian yang dibuat oleh Mars dalam tulisan sederhana ini.

[3] Alegori yaitu analogi (persamaan) yang membandingkan suatu realitas dengan realitas lain dalam berbagai fungsinya. Alegori berbeda dari perumpamaan. Dalam alegori, masing-masing unsur diberi makna sementara dalam perumpamaan, satu realitas dijelaskan dengan realitas lain [Lih. A.S. Hadiwiyata, Tafsir ..., hlm. 143.]

[4] A.S. Hadiwiyata, Tafsir …, hlm. 143-144.

[5] Annie Jaubert, Mengenal Injil Yohanes (judul asli: Lecture de l’Evangile selon saint Jean), diterjemahkan oleh Stefan Leks), Yogyakarta: Kanisius, 1980), hlm. 52.

[6] Francis J. Moloney, Signs …, hlm. 145.

[7] Musim dingin yang dimaksud kemungkinan besar mau menyebutkan cuaca yang berangin. Adalah sesuatu yang kurang natural jika Yesus pada situasi seperti itu berjalan-jalan di serambi Salomo. [Lih. John Mars, Saint John ..., hlm. 406.

[8] Annie Jaubert, Mengenal …, hlm. 55, 58.

[9] Annie Jaubert, Mengenal …, hlm. 55-56.

[10] Annie Jaubert, Mengenal …, hlm. 56-57. Nabi Zakharia bahkan berkata bahwa semua keluarga bumi kelak harus pergi ke Yerusalem dan menghadiri hari raya Pondok Daun untuk menerima karunia hujan. Dalam Misnah (buku hukum Yahudi dari abad II M), dikatakan bahwa selama pesta ini berlangsung, semua orang Israel menimba air dari mata air Siloam dan bahwa semua raong berarak-arak menuju Bait Allah sambil melagukan mazmur-mazmur, sedangkan para imam mereciki mezbah dengan air dari Siloam itu. Tentu saja persembahan ini melambangkan pula sumber air hidup yang pada akhir zaman diharapkan terbit dalam Bait Allah (bdk. Yeh 47:1-12).

[11] Annie Jaubert, Mengenal …, hlm. 57-58.

[12] James C. VanderKam, “Dedication, Feast of” dalam David Noel Freedman (ed.), The Anchor Bible Dictionary vol. 2 D-G (New York: Doubleday, 1992), hlm. 123-125; bdk. John Barton & John Muddiman (ed.), The Oxford Bible Commentary (Oxford-New York: Oxford University Press, 2001), hlm. 980.

[13] Francis J. Moloney, Signs and Ahadows: Reading John 5-12 (New York: Fortress Press Minneapolis – Library of Congress Cataloging – in – publications Data, 1996), hlm. 144; bdk. James C. VanderKam, “Dedication, Feast of” dalam David Noel Freedman (ed.), The Anchor …, hlm. 980.

[14] Francis J. Moloney, Signs …, hlm. 144-145; bdk. James C. VanderKam, “Dedication, Feast of” dalam David Noel Freedman (ed.), The Anchor …, hlm. 980.

[15] James C. VanderKam, “Dedication, Feast of” dalam David Noel Freedman (ed.), The Anchor …, hlm. 980.

[16] Francis J. Moloney, Signs …, hlm. 144-145.

[17] Francis J. Moloney, Signs …, hlm. 144-145. Menurut Josephus, serambi Salomo merupakan bagian sisi sebelah Timur Bait Allah (War 5.184-185; Antiquites 15.396-401; 20. 220-221). Tempat ini menjadi tempat berkumpul orang-orang Kristen perdana (Kis 3:11; 5:12. [Lih. John Barton & John Muddiman (ed.), The Oxford …, hlm. 980. Lih. juga Raymond E. Brown (ed.), The New Jerome Biblical Commentary (Great Britain: Geoffrey Chapman, 1989), hlm. 969.

[18] Francis J. Moloney, Signs …, hlm. 145.

[19] Francis J. Moloney, Signs …, hlm. 145-146.

[20] Francis J. Moloney, Signs …, hlm. 147.

[21] John Barton & John Muddiman (ed.), The Oxford …, hlm. 980.

[22] Francis J. Moloney, Signs …, hlm. 147-148. Bdk. John Barton & John Muddiman (ed.), The Oxford …, hlm. 980. Bdk. juga John Mars, Saint John …, hlm. 407.

[23] Francis J. Moloney, Signs …, hlm. 147. Bdk. Leon Morris, The New International Commentary on the New Testament: The Gospel According to John (Grand Rapids: WM. B. Eerdmans Publishing Co., 1971), hlm. 515-522.

[24] Francis J. Moloney, Signs …, hlm. 147-148.

[25] Francis J. Moloney, Signs …, hlm. 148.

[26] Francis J. Moloney, Signs …, hlm. 148-149. Bdk. Leon Morris, The New International …, hlm. 523-525.

[27] Francis J. Moloney, Signs …, hlm.149. John Mars, Saint John …, hlm. 407-408.

[28] Francis J. Moloney, Signs …, hlm.150.

[29] Francis J. Moloney, Signs …, hlm.150.

[30] Francis J. Moloney, Signs …, hlm.150.

Posted April 5, 2010 by paulsaragih in About Jesus

Menilik Persoalan Teologis Di Paroki St. Fransiskus Assisi-Palipi Rentang 2008-2009   Leave a comment

  1. 1. Hantaran

Tulisan ini diawali dengan sebuah deskripsi singkat tentang situasi sosial umat Katolik di Paroki St. Fransiskus Assisi-Palipi. Saya, lewat pengalaman pastoral selama menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di paroki ini (02 Agustus 2008-05 Juli 2009), mencoba merangkumkannya seraya menilik persoalan-persoalan teologis apa yang hidup di tengah-tengah umat. Dari banyak tema, saya memilih enam poin yang cukup mengemuka.

  1. 2. Situasi Palipi: Selayang Pandang

Dalam tata pemerintahan, Palipi termasuk ibu kota kecamatan. Palipi terletak di sebelah barat Pangururan. Pangururan sendiri merupakan ibu kota Kabupaten Samosir. Seperti pada umumnya Pulau Samosir, keadaan topografis kecamatan Palipi berupa pebukitan, lembah dan daerah pantai. Walaupun demikian, terdapat tanah datar di puncak-puncak pebukitannya. Penyebaran penduduknya pun tidak merata. Umumnya, daerah pantai berpenduduk padat karena di samping dekat dengan sumber air yakni Danau Toba, juga dekat dekat jalan utama Samosir. Semakin ke daerah perbukitan, pemukiman penduduk semakin jarang.[1] Masyarakat Palipi cukup homogen baik dari segi mata pencaharian, pendidikan, budaya dan suku. Kemajuan tidak begitu terasa di Palipi, termasuk pembangunan, pendidikan, kesehatan. Mobilitas penduduk dan arus perdagangan yang tidak begitu tinggi sangat berpengaruh pada aktivitas masyarakatnya.

Aktivitas penduduk kurang bervariasi karena situasi yang cukup homogen. Pada umumnya, kaum pria menghabiskan waktu luangnya di lapo tuak/kopi sementara kaum wanitanya ngerumpi. Sisi positif dari situasi ini ialah bahwa tradisi (budaya) cukup terjaga. Hal ini didukung oleh attensi masyarakat yang begitu tinggi pada budaya khususnya masalah parjambaran, tarombo (silsilah), tanah dan sebagainya. Pengetahuan tentang hal ini cukup merata di kalangan orang tua bahkan kaum muda.

  1. 3. Paroki St. Fransiskus Asisi-Palipi: Selayang Pandang

3.1. Sejarah Kekatolikan

Palipi, tepatnya Desa Simbolon, merupakan tempat pertama misionaris Katolik menjejakkan kakinya di Pulau Samosir. P. Chrysologus Timmermans, OFMCap.,  adalah misionaris itu. Pada tahun 1 April 1936, P. Diego van den Biggelar, OFMCap., menetap di Desa Simbolon. Pada tahap awal, beberapa kesulitan yang cukup berarti datang menghadang. Ajaran Katolik yang diwartakannya tidak gampang masuk ke dalam hati orang Batak Toba karena ajaran Protestan sudah lebih dahulu berkembang.[2]

3.2.   Militansi Kekatolikan

Mayoritas penduduk kecamatan Palipi beragama Katolik. Namun secara faktual, entah fenomena ini menggerogoti semua agama, jumlah umat yang hadir dalam ibadat sabda hari Minggu di gereja Katolik di 32 stasi cukup memprihatinkan. Rata-rata presentasi kurang dari 50 % dari keseluruhan jumlah umat dan didominasi oleh kaum hawa khususnya ibu-ibu. Dalam rapat paripurna yang diadakan pada 11-13 Januari 2009 dan Presidium I pada 7-8 Juni 2009, disimpulkan bahwa militansi kekatolikan semakin lemah. Tingkat pengetahuan umat dan juga pengurus gereja, rendah. Di satu sisi, umat mengaku bangga sebagai Katolik tetapi di sisi lain, sebagian umat gampang pindah agama hanya karena alasan sepele seperti sakit hati atau kecewa.

3.3.   Karya Pastoral

Secara umum, karya-karya pastoral di paroki ini masih tergolong konvensional. Hal ini merupakan konsekwensi logis dari situasi umat yang sangat homogen baik dari segi suku, pekerjaan, pendidikan dan sebagainya. Pada saat ini, bentuk-bentuk karya pastoral baru mulai diperlukan walaupun belum begitu mendesak seperti pendampingan untuk pasutri atau guru-guru. Walaupun demikian, tokh pastor bersama DPP terus berpikir dan mencari bentuk-bentuk pastoral lama yang disampaikan dengan cara/rasa baru untuk meningkatkan geliat hidup menggereja.

4. Enam Masalah Teologis di Paroki Palipi dan sekitarnya

4.1.   Isu Begu Ganjang

Isu begu ganjang sudah tidak asing lagi dalam masyarakat Batak Toba. Sebelum saya mengakhiri masa TOP di Paroki St. Fransiskus Assisi-Palipi, isu begu ganjang marak lagi, tepatnya di Palipi sendiri, Panahatan dan Rianiate. Latar belakang maraknya isu ini adalah persoalan tanah (di Panahatan), kecemburuan sosial (di Palipi), kematian mendadak beberapa orang (di Rianiate). Situasi ini bukan hanya sekedar persoalan sosial, politis atau kultural tetapi merembes ke persoalan iman, ketika umat Katolik sendiri mempertanyakan kekuatan doa, kekuatan Roh Kudus dan kekuatan benda-benda suci seperti rosario, air suci, salib dan sebagainya berhadapan dengan situasi ini.

Bila merujuk pada sejarah, sebelum kekristenan masuk di Samosir, kepercayaan animis cukup kuat dalam masyarakat. Ternyata, walaupun kekristenan khususnya Katolik di Samosir akan berumur 75 tahun (1935-2010), kepercayaan tersebut masih mewarnai konsep religius masyarakat Samosir secara khusus Palipi. Bila dipandang secara kritis, timbul-tenggelamnya isu begu ganjang sangat dipengaruhi oleh situasi sosial yang kompleks. Gereja Katolik di Palipi sungguh ditantang dalam menghadapi situasi ini. Katekese-katekese sungguh diperlukan termasuk aneka kegiatan pendalaman iman.

4.2.   Doa dan Harapan

Pada umumnya, masyarakat Palipi dan sekitarnya hidup dari pertanian tradisional. Amat sering terjadi, jika kemarau panjang melanda, banyak umat memanjatkan doa entah dalam keluarga, dalam doa lingkungan atau saat di gereja, agar hujan turun. Jika hujan tidak turun, dapat dipastikan bahwa panen akan gagal. Saat-saat seperti ini sungguh menantang iman mereka. Pertanyaan sering muncul dari mereka: “Mengapa doa-doa yang kami sampaikan tidak dikabulkan Tuhan? Apakah Tuhan itu sungguh-sungguh pemberi dan pemelihara kehidupan? Jika ‘Ya’ mengapa Ia tidak menurunkan hujan agar kami dapat makan dan anak-anak kami dapat sekolah?”

Bagi saya, persoalan ini memang sungguh menantang. Doa adalah suatu misteri. Di dalamnya keyakinan kita pada kekuasaan Tuhan diuji. Dua sikap bisa timbul bila berbicara tentang doa: menjadi semakin beriman karena doa dialami mempunyai kekuatan atau menjadi tidak beriman dan apatis terhadap Tuhan sehingga memandang doa sebagai fantasi. Jawaban dari keluhan umat tersebut kembali pada pengalaman eksistensial pribadi yang bersangkutan. Aneka katekese bisa membantu sejauh hati mereka terbuka.

4.3.   Penindasan

Persoalan tanah adalah persoalan yang kompleks di Samosir. Bila menoleh ke belakang, pemilik tanah adalah satu keluarga atau lebih yang pertama membuka suatu perkampungan (si pungka huta). Luas areal yang menjadi miliknya adalah sejauh mata memandang. Kaum pendatang yang tinggal di suatu kampung tidak mempunyai hak milik tetapi hak pakai. Oleh karena itu, status penumpang memang amat lemah. Si pungka huta atau keturunannya dapat dengan mudah mengusir mereka bahkan dengan alasan yang terkadang amat sepele dan pribadi.

Sistem lama ini masih berlangsung hingga sekarang. Pada kenyataannya, situasi ini membuat keluarga-keluarga penumpang berada dalam posisi lemah, terancam, tidak pasti, terjepit dan tertindas. Persoalan sosial ini dapat dipandang sebagai persoalan teologis ketika mereka yang merasa ditindas bertanya: “Kemana kami harus pergi dan berlindung?” Pemerintah bahkan gereja yang statusnya cukup dihargai oleh masyarakat terkadang tidak dapat berbuat banyak menghadapi situasi ini. Di sini, Gereja Katolik, khususnya harus menjadi pengayom bagi mereka yang tertindas dan menderita akibat ketidakadilan. Tambahan lagi, Gereja harus lebih keras bersuara atas ketidakadilan dan kesemena-menaan ini.

4.4.   Kepecayaan pada hal-hal magis (takhyul)

Entah karena termasuk daerah ‘tertinggal’, mayarakat Palipi termasuk, sebagian besar umat Katolik, sangat percaya pada hal-hal magis dan takhyul. Mereka percaya bahwa di tempat-tempat tertentu, oleh roh-roh jahat. Penyakit tertentu kerap diyakini sebagai ulah roh-roh jahat. Itu sebabnya, praktek perdukunan masih cukup laris di sana. Hal-hal ini semakin ditanamkan dalam diri anak-anak lewat cerita-cerita dan larangan-larang orang tua.  Bahkan larangan untuk tidak lewat pada tempat tertentu pada waktu tertentu disampaikan kepada pastor atau frater yang bertugas di Palipi.

Lewat fenomena ini, timbul pertanyaan, seberapa dalam iman kekatolikan telah tertanam dalam hati umat Katolik di Palipi? Seberapa kuat janji baptis untuk menolak hal-hal takhyul telah meresapi umat? Walau demikian, tetap harus disadari bahwa mengubah pola pikir atau keyakinan sangat sulit. Tingkat pendidikan umat yang rendah,  mobilitas yang kurang dan pergaulan yang sempit membuat kepercayaan tradisional masih tetap tertanam.

4.5. Takdir atau Nasib

Orang Batak primitif meyakini bahwa takdir atau nasib seseorang sudah ditentukan sebelum ia lahir. Nasib itu ditentukan atau dipilih oleh jiwa orang itu sendiri ketika masih berada di dunia atas (banua ginjang). Kiranya keyakinan ini masih dihidupi oleh umat Batak Toba-Katolik masa kini di Palipi. Ungkapan umat seperti: “On do bagianhu” (inilah takdirku); “Ai ndang turpukta hamoraon” (menjadi orang kaya bukan nasib kita) memperkuat hal ini.

Bagi saya, pola pikir seperti ini tergolong dualisme seperti halnya dalam filsafat Plato. Hal ini juga tampak dari keyakinan bahwa jiwa (tondi) dan badan adalah dua hal yang terpisah dalam diri manusia. Di samping itu, pola pikir umat ini mengingatkan saya akan ajaran Protestan tentang predestinasi. Tentu persoalan ini sudah masuk dalam ranah teologis. Bukan perkara gampang mengubah pola pikir dan keyakinan yang telah diwariskan sedemikian lama. Namun, usaha mesti dibuat agar umat sungguh mengerti dan mengimani ajaran Katolik yang benar.

4.6. Gereja dan gereja

Saat ini, umat Katolik di Paroki Palipi secara khusus, dan di tanah Batak pada umumnya, masih getol-getolnya mengusahakan pembangunan atau renovasi gedung gereja.  Bagi mereka, gedung gereja menjadi identitas kekatolikan. Ada kebanggan tersendiri di kalangan umat atau pengurus gereja bila gedung gereja berhasil dibangun atau direnovasi. Tentu sikap ini tidak dapat disalahkan seratus persen. Namun yang menjadi soal yakni bahwa perhatian tinggal pada hal tersebut dan melupakan pembangunan Gereja yang sesungguhnya yakni umat Allah sendiri.

Seperti sudah disinggung sebelumnya, kerajinan umat untuk berkumpul, berdoa bersama dan merayakan liturgi, entah pada hari Minggu atau di lingkungan (lunggu) cukup memprihatinkan. Bagi saya, ini bukan persoalan pastoral belaka tetapi sudah memasuki ranah teologis (Eklesiologi). Umat tidak sampai pada pemahaman bahwa Gereja adalah misteri dan sakramen, suatu persekutuan yang hidup yang diikat oleh iman akan misteri Paskah Kristus.

  1. 5. Penutup

Menarik mengerjakan tulisan seperti ini. Bagi saya, ini merupakan tahapan awal untuk memasuki studi teologi dengan harapan bahwa saya tidak sekedar belajar teologi saja tetapi sungguh mampu berteologi secara kontekstual dimanapun saya berada. Saya semakin sadar bahwa teologi bukan mata kuliah yang beku, dingin dan mati tetapi sungguh hidup dan mengena. Oleh karena itu, kepekaan akan situasi sosial dan luasnya cakrawala tentang ilmu-ilmu lain seperti sosiologi, psikologi, dan terutama filsafat menjadi sesuatu yang niscaya untuk berteologi.


[1] Walaupun demikian, setiap jengkal tanah tersebut dimiliki oleh, atau sebuah keluarga atau sekelompok marga. Persoalan tanah di Samosir sangat pelik sekaligus menarik untuk diteliti lebih serius. Perihal tanah mempunyai andil besar dalam pembentukan tata sosial dan pola pikir masyarakat Samosir. Kecamatan Palipi secara geografis agak tertutup bila dibandingkan dengan Kecamatan Ambarita, Kecamatan Nainggolan, maupun Pangururan. Palipi bukanlah pusat perdagangan seperti halnya Tomok yang dekat dengan Parapat atau seperti Nainggolan yang dekat dengan Balige, atau Pangururan yang menjadi pusat pemerintahan perdagangan dan pendidikan.

[2] Sejarah mencatat bahwa pada masa-masa awal cukup banyak masyarakat yang beragama Parmalim menjadi umat Katolik dan tak sedikit pula yang berasal dari agama Protestan. Pada awalnya, rumah sakit, sekolah dan juga semangat para misionaris menjadi daya tarik utama masuk agama Katolik. Pada masa awal ini, katekese sangat kurang. Namun fanatisme kekatolikan sangat kuat karena persaingan antara agama Protestan dan Katolik terasa. Pada masa kini, faktor-faktor tersebut tidak begitu menggema. Orang-orang yang masuk Katolik umumnya karena perkawinan mixta religio.

Posted April 5, 2010 by paulsaragih in Ber - Teologi

KONSEP PEMBELAJARAN ALLAH TRINITAS – ALLAH ORANG KRISTEN   Leave a comment

Trinitas dalam Pengalaman Orang Kristen

Tanda salib “Dalam/demi nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus” merupakan tanda yang sangat biasa dalam pengalaman hidup orang Kristen. Tanda ini dieksplisitkan oleh umat Katolik dalam gerakan tubuh yakni dengan menandai dahi, kedua bahu, dan dada dengan tanda salib. Orang Kristen juga dibaptis dengan forma “Dalam/demi nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Artikulasi iman yang paling sederhana: “Dalam/demi nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus” merupakan doa paling dasar sekaligus lengkap untuk mengekspresikan iman kekristenan akan Allahnya. Di pihak lain, iman ini barangkali paling dulu dijelaskan bukan hanya bagi orang Kristen biasa tetapi juga yang sedang belajar teologi. Iman ini juga tidak begitu penting dalam pengalaman Kristen masa kini dan dirasa cuma sebagai hasil spekulasi teologi yang sangat rumit. Tulisan ini mau mencoba menunjukkan bahwa misteri Trinitas sungguh penting dan mendasar dalam pengalaman Kristen seluruhnya (bukan hanya para teolog).

Credo ut intelligam, intellego ut credam” demikian ungkapan Anselmus yang terkenal. Kita telah mengimani Allah Trinitas dalam hidup kita sejak dibaptis dan kita mau tahu dengan teliti apa yang persisnya yang kita imani. Apa yang kita imani dan dalam mana kita hidup yakni Dalam/demi nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus. Pertanyaan dasar ini telah diolah secara paling hakiki dan sederhana dalam apa yang kita kenal dengan Syahadat/credo Para Rasul. Syahadat ini merupakan persetujuan calon baptis pada iman akan Bapa (= mahakuasa, pencipta langit dan bumi), dan akan Putera (= Yesus, Kristus, Putera-Nya yang tunggal Tuhan kita), dan yang dikandung dari Roh Kudus. Dalam bingkai Trinitas, syahadat ini lebih dari pada iman akan Trinitas tetapi juga kena dengan semua artikel tentang Yesus Kristus atau tentang Gereja dan kebangkitan.

Originalitas dan Status Quaetionis Triadologi

Originalitas doktrin triniter adalah pemakluman Yesus sebagai Tuhan (kyrios) oleh jemaat Kristen perdana. Orang-orang Kristen perdana sungguh meyakini bahwa Yesus bukan hanya manusia tetapi dialami dan diimani sebagai Tuhan. Karya penyelamatan Yesus yang adalah Kristus diyakini sebagai karya Yang-Ada, yakni Tuhan langit dan bumi. Dengan demikian, titik berangkat doktrin triniter adalah Kristologi. Masalah yang dihadapi para Bapa-bapa Gereja abad I bukan hanya mempertanggungjawabkan divinitas Kristus tetapi berusaha mengolaborasi sistem monotheis murni yang diwarisi dari dunia keyahudian dengan iman yang baru akan Yesus Kristus. Dalam usaha kolaborasi ini mau dibuktikan bahwa tetap mungkin mewartakan unisitas (kesatuan) dan unisitas (persekutuan) Allah di bawah modalitas kesatuan-kesatuan konkrit antara Allah-Bapa, dan Allah-Putera. Oleh karena itu, masalah utama monotheisme triniter adalah mendamaikan unitas dan trinitas.[1] Seandainya iman triniter sungguh menjaga unisitas Allah, bagaimana bentuk unisitas tersebut? Bagaimana dan dengan modus apa Trinitas itu berada karena Ketiganya tidak berbeda secara essensial? Atau dengan rumusan lain: bagaimana mendamaikan aspek essensi umum dari ketiga pribadi dan aspek keberbedaan dari masing-masing pribadi? Rumusan triniter yang paling kuno menjawab demikian: Satu Allah, tiga pribadi. Namun sebelum sampai pada jawaban yang matang tiga abad setelah generasi pertama jemaat kekritenan, perlulah menggali dan mencoba memahami pengalaman iman jemaat kristen perdana akan Yang-Ilahi, yang tersurat dalam Kitab Suci Perjanjian Baru.

Akar-akar Ajaran Trinitas dalam Perjanjian Baru

Fokus utama penulis Perjanjian Baru bukan terutama perumusan ajaran tentang Allah tetapi memaklumkan Kerajaan Allah dalam diri Yesus Kristus. Walaupun demikian, disadari atau tidak, para penulis Perjanjian Baru telah menunjukkan akar-akar ajaran Trinitas dalam tulisan mereka yang adalah buah refleksi iman akan aksi profetis Yesus.[2]

Matius

Injil Matius, secara khusus 28:19 menunjukkan bahwa pada saat injil ini ditulis (+ th 80-90) rumusan pokok ajaran, ungkapan iman trinitaris telah mapan dalam liturgi. Rumusan ini sungguh hasil refleksi bersama selama satu atau dua generasi tentang pengalaman jemaat Kristen perdana akan Yesus Kristus. Dan Roh Kudus dalam konteks iman Yahudiah akan satu Allah yang mereka warisi. Gereja, untuk dan darimana Matius menulis Injil, terdiri terutama dari orang-orang Yahudi diaspora. Allah Israel yang diimani oleh moyang mereka hampir secara eksklusif mereka sebut Bapa. Mereka juga bergabung dengan Dia dalam nama yang sama yaitu Putera dan Roh Kudus.

Yohanes

Injil Yohanes, yang ditulis lebih kemudian dari Matius (+ th 100), memuat sejenis refleksi yang pasti dipengaruhi refleksi Matius. Dalam Yohanes, dapat dibedakan dua garis sederhana  yang mungkin berasal dari jemaat Kristen tertua. Pertama, hubungan Yesus dengan Allah Bapa, dan kedua, tentang hubungan Yesus (dan Bapa) dengan Roh Kudus. Yohanes menempatkan semua refleksi ini pada mulut Yesus sebagai ajaran dan wahyu ilahi. Hubungan Yesus, Putera dengan Bapa secara paling lengkap diatur dalam kotbah Yesus dalam Yoh 5:19-47. Kotbah dan tindakan Yesus ini memicu orang-orang Yahudi untuk membunuhnya karena Ia, bukan hanya melanggar Sabat tetapi menyebut Allah sebagai Bapa-Nya, dan membuat diri-Nya setara dengan Allah (5:18). Keyakinan inilah, bahwa Yesus sama dengan Allah, yang mendorong orang Kristen perdana merefleksikan misteri ini dan mengembangkan ajaran tentang Trinitas. Itu dibuat dengan memakai kata ‘Bapa’ dan ‘Putera’. Demikianlah dalam Yoh 5:19-47, dua hal ditetapkan. Pertama, kebergantungan total Putera pada Bapa, yang oleh-Nya Dia diutus, dan kedua, kesamaan-Nya dengan Bapa. Dalam teks-teks lain, bahasa menjadi lain. Tidak lagi ‘diutus oleh Bapa’ melainkan ‘datang dari dan kembali kepada Bapa’ (lih. 16:28; bdk. 13:1), atau ‘datang dari surga dan pergi lagi ke surga’ (lih. 13:3; 6:38-42). Dalam diskusi teologis kemudian kedua ungkapan ini (prosessi) diarasa perlu dibedakan. Namun bagi Yohanes, keduanya menunjuk hubungan yang sama. Teks yang paling kuat tentang kesamaan itu adalah 10:30: “Aku dan Bapa adalah satu”. Di tempat lain ada yang bertentangan dengan ini yaitu 14:28: “Karena Bapa lebih besar dari pada Aku” Kemungkinan besar teks ini berasal dari editor terakhir yang mendandaikan refleksi yang lebih kemudian.

Hubungan Yesus dengan Bapa dan Roh Kudus terutama disoroti Yohanes dalam bab 14-16. Istilah dan bahasa yang dipakai Yohanes mengharuskan kita untuk menerima Roh Kudus sebagai pribadi yang berbeda. Dia disebut ‘Pembela lain’ (Advocatus, Paraclitus) …, ‘Roh Kebenaran’ (14:16-17), ‘Penghibur yaitu Roh Kudus yang akan diutus Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu’ (14:26).[3] Dalam Yoh 15:26 dan 16:13-15 tanpa ragu dipantulkan pengalaman tentang roh yang dialami oleh jemaat Kristen perdana sebagai tambahan pada pengalaman mereka atau pertemuan mereka dengan Yesus. Tetapi penginjil cukup hati-hati menghubungkan Roh Kudus secara teguh dan tak terpisahkan dengan Yesus, sebagai yang diutus oleh Yesus atau oleh Bapa atas nama-Nya. Yohanes dengan tegas menghubungkan pengutusan atau pemberian Roh Kudus dengan apa yang disebut pemuliaan Yesus yakni kematian dan kebangkitan-Nya (7:39; 20:22).

Paulus

Surat-surat Paulus merupakan yang pertama dari tulisan-tulisan Perjanjian Baru. Dalam surat-surat ini, kita dapat menemukan refleksi iman tertua tentang wahyu. Paulus menekankan bahwa pengalaman akan Roh Kudus tak terpisahkan dari pengalaman akan Yesus Kristus. Kepada jemaat di Korintus sebagai kelompok beriman yang karismatis Paulus menegaskan demikian: “tidak seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: ‘Terkutuklah Yesus’, dan tidak seorangpun yang dapat mengaku ‘Yesus adalah Tuhan’, selain oleh Roh Kudus.” (I Kor 12:3). Percaya kepada Roh Kudus dan kepada Yesus sebagai Tuhan tidak terpisahkan karena Roh Kudus tidak dapat dipisahkan dari Yesus. Dalam I Kor 12: 4-6 Paulus coba memberikan kita rumusan trinitaris. Walaupun demikian perlu diketahui bahwa Paulus tidak pernah memakai istilah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Rumusan tersebut belum terbentuk pada masanya, juga tidak ada susunan tetap dari pribadi-pribadi ilahi. Bila Paulus berbicara tentang Allah tanpa keterangan, yang dimaksud selalu Bapa; dan bila ia berbicara tentang Tuhan tanpa keterangan, hampir selalu maksudnya Yesus, Putera. Dalam I Kor 12 dan 18, Paulus menyebut pribadi-pribadi ilahi dalam hubungannya dengan masalah aktual tertentu yang hidup dalam jemaat Kristen. Hubungan antara pribadi ilahi satu sama lain dinyatakan hanya dalam istilah dan konteks hubungan kita dengan mereka. Dalam Gal 4:4-7 lebih nyata lagi pernyataan Paulus tentang misteri Trinitas. Sebagai puncak wahyu Allah kepada manusia, Allah mengutus Anak-Nya dan Roh Anak-Nya. Allah mewahyukan misteri-Nya dengan mengutus Anak-Nya sebagai manusia (lahir dari perempuan), dan sebagai orang Yahudi (lahir di bawah hukum), dan mengutus bukan hanya Roh-Nya tetapi Roh Anak-Nya ke dalam hati manusia. Misteri tersebut diwahyukan untuk mengubah status dan hubungan kita dengan Allah, dari status budak menjadi anak.

Masih ada dalam Perjanjian Baru yang menyaksikan iman penulis akan misteri Trinitas. Mungkin yang terpenting adalah prolog Injil Yohanes dan dua tablo permandian Yesus di sungai Yordan (Mark 1:9-11 dan par.) dan transfigurasi (Mark 9:2-8 dan par.). Dari seleksi beberapa bukti Perjanjian Baru, ada konstatasi bahwa misteri Trinitas diwahyukan kepada murid-murid Yesus.

Teks Gal 4:4-7 dapat dipakai sebagai titik tolak untuk penelitian kita tentang latar belakang Perjanjian Lama tentang misteri pewahyuan Allah. Paulus berkata bahwa misteri Trinitas diwahyukan Allah dengan mengutus anak-Nya dan mengutus Roh Anak-Nya. Keduanya jelas peristiwa Perjanjian Baru. Tetapi perutusan ini terjadi dan diamati dalam konteks Yudaisme abad pertama. Itu berarti istilah-istilah datang dari Perjanjian Lama. Istilah-istilah yang penting adalah: ‘Bapa’ dan ‘Anak’ (Kej 6:2; Mz 29:1, 89:6; Ayub 1:6, 38:7; Keb 5:5), ‘Allah’ dan ‘Tuhan’ (Kej 2-3; Kel. 3:14-15), ‘Logos’ dan ‘Kebijaksanaan’ (Ams 8:22-31; Sir 24), juga gagasan verbal tentang ‘pengutusan’ (Kel 9:14; Ams 4:10; Bil 21:6; Kel 15:7, 23:27; Mz 43:3, 147:18, 104:30; Yes 55:11, Keb 9:10; Sir 24:3). Istilah-istilah Perjanjian Lama ini dipakai oleh penulis Perjanjian Baru dengan muatan yang lebih kaya dan arti yang lebih baru dalam konteks pewahyuan final dalam diri Yesus. Kelak akan dipersoalkan lagi bagaimana wahyu itu diterima. Apa yang terjadi sesudah masa jemaat perdana adalah diskusi filosofis-teologis yang rumit dengan gagasan baru dan asing tentang ke-Allah-an sebagaimana ada dalam monoteisme Yahudi tradisional.

Polemik seputar Trinitas hingga Abad IV

Topik utama polemik seputar Trinitas hingga abad IV adalah perihal ke-Tuhan-an Yesus dan ke-Tuhan-an Roh Kudus dalam keyakinan iman monoteisme Kristen. Polemik teologis ini lebih hidup terutama di Gereja Timur dibandingkan di Gereja Barat.[4]

Pada abad II, kekristenan sudah menyebar ke daerah-daerah hellenis. Fakta ini mendorong Gereja untuk menginkulturasikan isi imannya dalam bahasa dan pola pikir hellenistik. Cara bicara alkitab yang konkret kini diganti dengan konsep-konsep metafisis yang fokus pada hal ‘mengada’. Dengan pola pikir seperti ini, Yustinus Martir[5], seorang perintis, bahkan mengatakan bahwa Yesus adalah ‘Allah yang lain’. Pendapatnya ini kemudian hari digolongkan sebagai pluralisme yang menggali jurang politeisme khususnya triteisme. Di pihak lain, kaum monarkian mencoba untuk tidak jatuh pada paham pluralisme Yustinian, dengan menerangkan monotesime iman kekristenan. Kaum monarkian berpendapat bahwa suatu daya (dynamis) ilahi yang impersonal berkarya dalam manusia Yesus (Monarkianisme dinamistik). Ditambahkan demikian bahwa Yesus diangkat sebagai Putera Allah (Adoptianisme). Kaum monarkian juga menerangkan bahwa Allah hanya satu pribadi saja. Putera dan Roh Kudus merupakan semata-mata cara Allah yang satu itu menampakkan diri (Monarkianisme modalistik). Muncul juga argumen dari kaum gnostik perihal topik ini. Mereka mengatakan bahwa tubuh Kristus di bumi ini hanya tubuh yang semu. Tubuh itu ditinggalkan-Nya lagi sebelum penyaliban (Doketisme).

Selama awal abad III, iman orang Kristen tentang Allahnya mulai agak jelas. Gereja mencoba mengembangkan imannya secara filosofis-teologis, dengan tetap setia pada akar-akar ajaran Kitab Suci tentang Trinitas. Ireneus dari Lyon[6] misalnya, yang menekankan keesaan Allah bahkan menggunakan rumusan yang agak mirip dengan kaum modalisme, mengatakan bahwa menurut ada dan kuasa-Nya, Allah itu pada hakekat-Nya esa, namun menurut pelaksanaan penebusan, terdapat Bapa dan Putera. Walaupun demikian, Ireneus juga berusaha mempertahankan perbedaan antara Bapa, Putera dan Roh Kudus. Selain Ireneus, terdapat juga Tertullianus[7] yang juga mencoba menjelaskan misteri Alllah orang Kristen. Ia mengatakan bahwa dalam hakikat Allah yang satu, terdapat tiga pribadi. Namun ketiga pribadi tersebut tidak memaksudkan terdapat lebih dari satu Allah. Hanya demi sejarah penyelamatan, diperlukan tiga pribadi sehingga terdapat perbedaan triganda dari keesaan. Ketiga pribadi itu berbeda bukan hanya hakikat melainkan bentuk dan rupa. Dari pendapat Tertullianus ini, ditemukan, dan kelak akan banyak digunakan bila berbicara tentang Trinitas, rumusan dan terminologi yang tepat untuk menerangkan Trinitas seperti Trinitas, persona. Namun perlu dicatat pula bahwa Tertullianus mengsubordinasikan Putera kepada Bapa. Origenes[8] juga menyumbang ide seputar Trinitas. Namun idenya ini kelak turut berpartisipasi dalam perdebatan yang dimunculkan oleh Arius.[9] Ia menegaskan bahwa Allah itu satu. Ia malah beranggapan bahwa in sensu stricto hanya Bapa itu Allah. Nama ‘Allah’ memang dapat diterapkan pada Putera atau Roh Kudus tetapi ke-Allah-an keduanya sekunder; diturunkan dari keilahian Bapa. Seperti Putera disubordinasikan kepada Bapa, demikianlah Roh Kudus kepada Putera. Putera dan Roh Kudus berlaianan dengan Bapa sejauh menyangkut hypostasis – yang bagi Origenes berarti keberdikarian individual – dan bersatu sejauh menyangkut keselarasan kehendak. Ia mengistilahkan jenis kesatuan Bapa, Putera dan Roh Kudus dengan homo-ousios (kesatuan hakikat).

Pada paroh pertama abad IV, Arius mencoba menyumbang ide untuk menerangkan Allah orang Kristen. Namun argumentasinya justru menimbulkan polemik yang berdampak luas dan skismatis. Sebelum persoalan yang berujung pada skisma yang dibawa oleh Arius, skisma Melitian sudah timbul di Alexandria antara Patriak Alexandria, Petrus (300-311) dengan Melitius, uskup Lycopolis, sebuah kota di Mesir. Namun persoalan yang ditimbulkan oleh Arius merupakan yang paling berefek luas dalam gereja hingga abad IV.

Ajaran Arius

Pada tahun 318-319 Arius dengan keyakinan mengikuti tradisi Alexandria membangun fondamen teologisnya mengenai hubungan Logos dan Bapa. Tujuannya adalah melengkapi tafsiran univok atas doktrin Origenian mengenai Trinitas, yang sampai pada masa itu masih belum jelas. Menurut Origenes ketiga persona: Bapa, Putera dan Roh Kudus, masing-masing memiliki hypostasis (ϋποςτάςίς). Namun ia menempatkan Putera dan Roh Kudus pada posisi yang lebih rendah dibandingkan Bapa (subordinasionisme), untuk melindungi kesatuan Allah dalam arti monarkianisme dan serentak untuk menggarisbawahi perbedaan dari ketiga persona. Namun pertanyaan mengenai hubungan yang persis antara ketiga persona tidak terjawab untuk waktu yang cukup lama. Arius mau menjawab dengan menggunakan filsafat medio dan neo-platonis.

Menurut platonisme hanya ada satu awal mula (αρχή) dari ada (το εν) dan hanya dialah yang tidak dilahirkan dan hanya dialah yang memiliki substansi (ϋποςτάςίς) dalam arti sesungguhnya yakni absolut dan tanpa syarat. Konsep ini ditujukan Arius kepada Allah Bapa. Hanya Dialah satu-satunya Allah, awal dari semua, yang tidak mempunyai awal (anarkos) yakni tidak dilahirkan (agennetos) dan tidak diciptakan (agenetos) – hingga saat itu, istilah ini tidak mempunyai pengertian yang sama – dan juga kekal/abadi (aidios), tidak berubah (atreptos) dan invariabel (analloiotos). Hanya Dialah yang memiliki ϋποςτάςίς yang ilahi, yakni kodrat ilahi (istilah ϋποςτάςίς dan ousia belum dibedakan secara jelas). Kegandaan sifat ini mengarah pada apa yang disebut diteisme. Begitu Arius memecahkan ambiguitas teologi triniter Origenian dengan menempatkan Putera pada jajaran ciptaan. Karena Putera dilahirkan (gen[n]etos), maka juga diciptakan (ktisma, poiema) dengan segala konsekwensi yang diakibatkannya. Terdapat waktu di mana ia tidak ada merupakan motto yang memuat inti teologi Arius. Slogan ini ditemukan pertamakali dalam karya utamanya: Perjamuan (θάλεία) yang disusunnya sekitar tahun 320.

Dengan menggunakan kesaksian biblis, Arius menandaskan bahwa kendati dicipta, Anak Allah mendapat tempat yang khusus dan istimewa di antara semua ciptaan. Dia dicipta sebelum segala waktu dan segala sesuatu diciptakan dengan perantaraan Dia; Dia memiliki prioritas atas setiap ciptaan lain (Ams 8:22), dan juga disebut Allah, Logos, Sophia, Dynamis, bulan menurut kodrat melainkan karena rahmat. Sebab sebelumnya Allah sudah melihat bahwa Kristus, kendati memiliki kodrat yang dapat berubah (treptos), namun memiliki kebebasan dan kehenda-Nya sama dengan kehendak Allah, sehingga sejak awal Allah memberikan kepada-Nya kemuliaan (doksa) yang hanya dapat diraih manusia melalui keutamaan (arete). Paham ini menempatkan Putera di atas semua ciptaan lain namun tidak dapat menjembatani jurang yang amat dalam dan mutral antara Bapa dan Putera dari satu pihak dan dengan ciptaan lain di pihak lain. Menurut pola pemikiran Arius, Putera adalah Allah namun bukan Allah yang sebenarnya (alethinos Theos) sebab Putera tidak ambil bagian pada natura ilahi (ousia/hypostasis) dan karena itu lebih rendah dari Bapa dari segi tingkatan, kuasa dan kemuliaan. Dengan demikian konsep homoousious dan co-eternus disangkal. Yang pertama, pembagian ousia menimbulkan gambaran yang bersifat materialistis yang kedua, mengandaikan bahwa ada dua yang tidak dilahirkan. Sementara menurut Arius, Putera tetap lain dan sama sekali berbeda dalam substansi dan kualitas dari Bapa.

Argumen Arius ini ternyata mendapat dukungan dari banyak pihak; salah satunya adalah Eusebius dari Cesarea. Akhirnya, Sinode Alexandria (323) merupakan tanggapan resmi pertama yang mengecam dan akhirnya mengeksomunikasikan Arius. Namun kontroversi yang ditimbulkan Arius semakin meluas dan mengarah perpecahan dalam tubuh gereja dan juga kekaisaran. Untuk mengakhiri kontroversi ini diadakanlah konsili ekumenis, yang sekarang dikenal sebagai konsili ekumenis yang I dalam gereja Katolik.

Konsili Nicea (325)[10]

Masalah utama konsili, dalam kaitannya dengan teologi Arius, ialah penjelasan teologis dan peneguhan kepercayaan trinitaris. Hasil dicapai tanpa melalui proposisi teologis tetapi dengan menerima suatu pernyataan iman (symbolum). Sebagai dasar symbolum, konsili mengambil entah janji baptis Gereja di Cesarea, entah janji baptis di kota lain Siro-Palestina, dengan pernyataan yang mempertegas atau sedapat mungkin mengesampingkan tafsiran Arian. Pada pernyataan itu, disisipkan istilah biblis dan istilah teknis-filosofis, khususnya homoousious. Teks syahadat Nicea berbunyi demikian:

“ Kami percaya akan satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta segala sesuatu yang kelihatan dan yang tak kelihatan. Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, lahir dari Bapa, lahir – tunggal, yaitu dari hakikat Bapa, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari dari   Allah benar, dilahirkan bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa, segala sesuatu dijadikan    oleh-Nya, baik yang di surga maupun yang di bumi. Ia turun untuk keselamtan kita, dan Ia menjadi daging dan menjadi manusia, wafat, kesengsaraan dan bangkit pada hari yang           ketiga, naik ke surga dan akan datang untuk mengadili orang yang hidup dan yang mati. Dan           akan Roh Kudus.”

“ Tetapi mereka yang berkata: ‘Pernah Ia (yaitu Putera Allah) tidak ada’ dan ‘Sebelum   dilahirkan, Ia tidak ada’, dan bahwa Ia dijadikan dari yang tidak ada, atau orang yang            menyatakan bahwa Putera Allah berbeda hypostasis atau hakikat-Nya, atau talah dijadikan,   atau mengalami perubahan, mereka itu dikutuk oleh Gereja Katolik.”

Konsili Nicea, dengan syahadat yang ditandatangani kebanyakan uskup yang hadir bahkan yang mendukung Arius, menegaskan bahwa Sang Putera bukan dijadikan melainkan dilahirkan. Digarisbawahi bahwa Sang Putera tidak dijadikan ex-nihilo dan juga bahwa tak pernah ada waktu ketika Allah Bapa sendirian, tanpa Putera; bahwa Bapa dan Putera sama-sama berkodrat ilahi (hypostasis). Namun dalam syahadat Nicea ini, pembahasan tentang kesatuan Allah serta perwujudan hypostasis-Nya yang triganda, tidak jadi dibahas; istilah ousia dan hypostasis juga masih dipakai secara sinonim untuk menunjukkan kesatuan hakekat.

Syahadat (Nicea-) Konstantinopel

Polemik utama sebelum konsili Nicea adalah perihal ke-Tuhan-an Putera. Sementara polemik menjelang konsili Konstantinopel adalah perihal ke-Tuhan-an Roh Kudus. Konsili yang diadakan pada tahun 381 ini memperluas artikel ketiga yang menyangkut Roh Kudus dari syahadat Nicea dan mengambil alih artikel tentang Putera. Isinya berbunyi demikian:

“Kami percaya akan satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan.

Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah yang tunggal;

Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad, terang dari terang, Allah benar dari Allah benar, dilahirkan bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa, segala sesuatu dijadikan oleh-Nya,

Ia turun dari surga untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita, dan ia menjadi daging oleh Roh Kudus dari Perawan Maria, dan menjadi manusia, Ia pun disalibkan untuk kita pada waktu Ponsius Pilatus, Ia wafat kesengsaraan dan dimakamkan, dan pada hari yang ketiga Ia bangkit menurut Kitab Suci, Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa, Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati, Kerajaan-Nya tak akan berakhir.

Dan akan Roh Kudus,

Ia Tuhan yang menghidupkan, Ia berasal dari Bapa, Yang serta Bapa dan Putera disembah dan dimuliakan, Ia bersabda dengan perantaraan para nabi.

Akan satu Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Kami mengakui satu baptisan akan penghapusan dosa. Kami menantikan kebangkitan orang mati dan hidup di akhirat, Amin.

Dengan pengakuan iman ini, Gereja dituduh menjauhkan umat dari pengalaman akan Tuhan yang konkret seperti dialami oleh jemaat perdana yakni dengan memasuki rumusan-rumusan filosofis dan istilah-istilah teknis. Namun bila memandang perkembangan ajaran tentang Allah Tritunggal sejak permulaannya hingga abad IV, tuduhan ini tidak dapat dipertahkan. Sebalinya dengan dogma ini Gereja mengatasi gelora gelombang helenisme yang mengancam iman Gereja. Dengan menetapkan dogma Trinitas Gereja tidak berusaha menyelami misteri Allah atau mendefinisikan hakikat-Nya tetapi menunjukkan bahwa Allah sendirilah yang menemui kita dalam Kristus dan bahwa dalam Roh Kudus, Allah sendiri hadir dalam Gereja.

Pandangan St. Agustinus dari Hippo (354-430): Tafsir atas Syahdat Nicea-Konstantinopel

Dalam bagian awal bukunya yang pertama tentang iman Trinitas (De Trinitate I, iv, 7), Agustinus mempertahankan baik kesatuaan Allah maupun ketiga Pribadi-Nya. Ia menuliskan demikian:

The purpose of all the Catholic commentators I have been able to read on the divine books of both testaments, whp have written before me on the Trinity which God is, has been to teach that according to the scriptures Father and Son and Holy Spirit in the inseparable equality of one substance present a divine unity; and therefore there are not three Gods but one God; although indeed the Son is not the Father: and the Son is begotten by the Father; and the Holy Spirit is neither the Father nor the Son, but only the Spirit of the Father and of the Son, himself co-equal to the Father and the Son., and belonging to the threefold unity.

It was now, however this same Trinity (their teaching continues) that was born of the Virgin Mary, crucified and buried under Pontius Pilate, on the third day, rose again and ascended into heaven, but the Son alone. Nor was it the same Trinity that came down upon Jesus in the form of a dove at his baptism, or came down in the day of Pentecost after the Lord’s ascensions, with a roaring sound from heaven as though a violent gust were rushing down, and in divided tongues as of fire, but the Holy Spirit alone. Nor was it this same Trinity that spoke from heaven: ‘You are my Son’ either at his baptism by John or n the mountain when the three disciples were with Hi, or when the resounding voice was heard: ‘I have both glorified my name and will glorify it again’ but it was the Father’s voice alone addressing the Son. Although just as Father and Son and Holy Spirit are inseparable, so do they work inseperably. This is also my faith, inasmuch as it is the Catholic faith.

Interpretasi Agustinus tentang misteri Allah Tritunggal dinilai Gereja sebgai interpretasi teladan dan tepat. Ia menafsirkan dengan amat baik istilah ousia dan hypostasis seraya mempetahankan kesatuan maupun ketegaan Pribadi-Nya. Dengan mempertahankan kesatuan, Agustinus mau menghindarkan tuduhan yang menciap ajaran iman Gereja sebagai politeis. Ia menandaskan bahwa Trinitas itu satu Allah, bukan tiga Allah. Allah yang Maha Esa itu tidak berhenti menjadi tunggal (simplex) karena Ia Tritunggal. Simplisitas Allah berarti bahwa segala kesempurnaan yang kita akui ada pada-Nya, menyatu dengan mengada-Nya sendiri.

Agustinus mempertahankan ketigaan pribadi Allah dengan mengatakan bahwa pribadi itu bukan sesuatu yang masing-masing berbeda dalam Diri-Nya sendiri melainkan hanya berbeda dalam relasi-Nya satu sama lain dan terhadap dunia. Di sini paham relasi dari Agustinus mengacu baik kepada kehidupan batin Allah (inter-trinitaris) maupun kepada hubungan antara Allah dengan ciptaan. Kehidupan inter-trinitaris ini dikonkretkan dalam sejarah keselamatan. Agustinus memandang

Credo Athanasius atau Quicumque vult

Pernyataan formal ini termasuk yang paling lengkap tentang ajaran Trinitas. Pernyataan ini pertama ditulis dalam bahasa Latin, mungkin tahun 500, jadi bukan ditulis bahkan tidak diketahui oleh Athanasius  – tokoh besar konsili Nicea yang membela kata ‘consubstansialis’. Credo ini kiranya ditulis oleh Cesarius dari Arles di Prancis di Prancis Selatan. Dia memang pengagum St. Agustinus. Di dalamnya, kita dapat melihat pikiran-pikiran St. Agustinus. Demikian bunyi teksnya dalam bahasa Inggris:

Whosoever wishes to be saved must before all things hold the Chatolic faith… Now the Chatolic faith is this: that we should venerate one God Trinity and Trinity ini unity, neither confounding persons nor separating substance. For there is one person of the Father, another of the Son, another of the Holy Spirit: But of the Father, Son and Holy Spirit one is the divinity, equal the glory, co-eternal the majesty. As the Father is, so is the Son, so the Holy Spirit: Uncreated the Father, uncreated the Son, uncreated the Holy Spirit; infinite the Father; infinite the Father, infinite the Son, infinite the Holy Spirit.

And yet there are not three eternals, but one eternal, just as there are not three uncreateds or three infinites, but one uncreted and one infinite. Likewise almighty is the Father, almighty the Son, almighty the Holy Spirit: and yet there are not three almighties but one almighty.

So too the Father is God, the Son is god, the Holy Spirit is God. And yet there are not three Gods but one God. So too the Father is Lord, the Son is Lord, the Holy Spirit is Lord, but one Lord. Because just as we are compelled by Christian truth to confess each person singly as God and Lord, so we are forbidden by the Catholic religion to say three Gods or Lords. The Father is made by no one, nor created, nor begotten. The Son is from the Father alone, neither made nor crated but begotten. The Holy Spirit is from the Father and the Son, neither made nor created nor begotten, but proceeding. Thus there is one Father, not three Fathers; one Son, not three Sons; one Holy Spirit, not three Holy Spirits. And in this Trinity there is nothing before or after, nothing greater or less; but all three persons are co-eternal with each other and co-equal; So that, as has already been said above, in every way unity is to be venerated in Trinity, and Trinity in unity. Whoever therefore wishes to be saved, must so think about Trinity.

Gagasan keharusan untuk setuju supaya selamat agak sensitif pada masa sekarang. Tetapi keharusan itu tidak memberatkan orang Kristen yang terdidik dengan baik bila iman Trinitaris ini berakar pada pengalaman Kristen sebagaimana itu dialami 1.500 tahun yang lalu. Gaya teks ini sangat skematis dan abstrak dan dapat menyumbang memisahkan misteri yang terkandung di dalamnya dan pengalam Kristen yang konkret.


[1] Yohanes Sarwo Kabul, Misteri Allah Orang-orang Kristen: Pengantar untuk Memahami Trinitas (Pematangsiantar: diktat), hlm. 1-3.

[2] Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika I: Allah Penyelamat (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hlm. 126-127.

[3] Dalam bahasa Yunani, ’penghibur’ merupakan kata benda maskulinum, sementara ’Roh’ merupakan kata benda neutrum. Ini bukan sekedar masalah grammatika. Dalam Perjanjian Lama, Roh lebih merupakan kekuatan ilahi, suatu sebutan impersonal dari Allah pribadi. Perubahannya dalam Perjanjian Baru merupakan suatu perkembangna wahyu yang berarti.

[4] Hingga abad IV ada empat patriakat yakni Roma, Konstantinopel, Alexandria dan Antiokhia. Keempat tempat ini merupakan asal-usul dan pusat kontroversi di samping sebagai kristalisasi kontroversi yang sama (mengiangat kedudukannya sebagai otoritas gerejani dan sipil). Roma memainkan peran kelas dua sebab, kendati diskusi hingga abad IV juga menyentuh dunia Barat, tetapi persoalan lahir dan berkembang di Timur.

[5] Yustinus Martir lahir di Palestina. Orang tuanya tidak beragama Kristen ataupun Yahudi. Ia termasuk apologet Yunani terpenting abad II dan pribadi paling luhur dari sastra Kristiani purba.

[6] Ireneus dari Lyon lahir antara tahun 140-160 di Asia kecil, kemungkinan di Smyrna. Ia teolog paling penting pada abad II. Pada masa mudanya, ia masih sempat mendengarkan khotbah-khotbah Uskup Polycarpus dari Smyrna yang adalah murid Rasul Yohanes. Setelah meninggalkan Asia kecil dan pergi ke Prancis sekarang, ia menjadi imam dan kemudian uskup di Lyon.

[7] Tertullianus lahir di Kartago, Afrika Utara sekitar tahun 155 atau 160. Ia kemudian menjadi ahli hukum dan pengacara di Roma. Sekitar tahun 193 ia menjadi seorang kristen dan menetap di Kartago. Menurut Agustinus, iapun seorang imam. Sekitar tahun 207 ia masuk aliran Montanisme (suatu aliran karismatik).

[8] Origenes lahir di Alexandria sekitar tahun 185 dari orang tua kristiani.Ayahnya Leonidas mati sebagai martir. Origenes mencari nafkah untuk dirinya dan orang tuanya dengan mengajar.

[9] Arius lahir di Lybia + tahun  256. Semenjak penganiayaan Kaisar Diocletianus, ia tinggal di Alexandria dan menjadi murid Lucianius dari Antiokhia. Uskup Alexandria, Petrus menahbiskannya menjadi diakon namun kemudian mengekskomukasikannya karena bersekongkol dengan skisma Melitian. Uskup Akille (311/312) menerimanya bahkan menahbiskannya menjadi imam. Ia ditahbiskan imam di Alexandria. Tahun 313 ia ditugaskan oleh Uskup Alexander (312-328) untuk memimpin gereja Alexandria di Baucalis. Arius menonjol sebagai pengkotbah dan gembala jiwa yang penuh perhatian sehingga mendapat prestasi yang gemilang.

[10] Konsili Nicea diadakan ketika Konstantinus menjadi penguasa tunggal atas Imperium Romana. Ia sendiri yang berinisiatif mengundang konsili demi menjaga kesatuan/stabilitas pemerintahannya. Mula-mula, konsili ini diadakan di Ancira namun pindah ke Nicea agar lebih dekat dengan istananya di Nicomedia. Konsili ini dibuka oleh kaisar sendiri pada tanggal 20 Mei 325. Menurut tradisi, waktu itu berkumpul 318 uskup. Kemungkinan konsili ini ditutup pada tanggal 19 Juni 325 atau 25 Juli 325. tokoh-tokoh terkemuka pada saat itu yakni Uskup Ossius dari Cordova, Patriak Alexader dari Alexandria, dengan diakonnya Athanasius, Patriak Eustatius, Uskup Eusebius dari Cesarea dan dari grup Arius yakni Arius, Uskup Eusebius dari Nicomedia dan Lucianus dari Antiokhia.

Posted April 5, 2010 by paulsaragih in Ber - Teologi

DIALOG INTRARELIGIUS   Leave a comment

”Mari Pergi ke Damietta !”

Menggali Spritualitas Misi St. Fransiskus

dalam Konteks Dialog Antaragama

Pengantar

Banyak orang pada abad ke-21, setelah melihat realitas umum, semakin meyakini apa yang dikatakan oleh Samuel Hutinghon sebagai Clash Civilization. Benturan peradaban yang terjadi kerap dikategorikan sebagai berikut: antara Timur dan Barat, Dunia pertama dan dunia ketiga, antara Islam dan Kristen. Bila direfleksikan lebih jauh, benturan yang dimaksudkan oleh Hutinghon sebagai civilization pada dasarnya adalah benturan ideologi. Benturan ideologi yang diwujudkan dalam agama, kiranya sesuatu yang paling sulit untuk didamaikan karena memuat seluruh totalitas diri dan pilihan bebas manusia. Dialog yang jujur dan terbuka adalah jalan satu-satunya agar benturan ideologi tidak membawa manusia pada situasi katastropis. Tulisan sederhana ini mencoba mengangkat salah satu contoh dialog yang jujur dan terbuka yang terjadi di Damietta-Mesir pada abad ke-12. Subjek yang berdialog pada perisiwa inspiratif di Damietta ini adalah Fransiskus dan Melek-el-Kamil.[1]

Sekilas Riwayat Hidup St. Fransiskus

Fransiskus lahir di Assisi-Italia pada tahun 1181/1182. Ayahnya bernama Pietro Bernardone dan Ibunya, Dona Pica. Sebagai anak saudagar kaya, Fransiskus muda gemar berpesta dan menyanyi keliling bersama teman-temannya (Troubadour). Cita-cita awalnya adalah menjadi ksatria namun kandas. Pernah selama 1 tahun ia dipenjara oleh orang-orang Perugia setelah laskar Assisi kalah di dekat Ponte San Giovanni.

Perubahan hidupnya berawal dari mimpinya di Lembah Spoleto dan juga suara yang didengarnya dari sebuah salib bergaya Byzantin di gereja San Damiano:”Perbaikilah gereja-Ku.” Dalam proses pencarian, ia banyak merenung dan bertanya kepada imam-imam di Assisi. Tiga perikop Kitab Suci menjadi pedoman awal yang dilakoninya hingga ia wafat. Ketiga perikope tersebut adalah perihal mengikuti Yesus dan Injil perutusan (Mat. 19:21; Luk. 9:3; Mat. 16:24).

Setting Historis Perjalanan Fransiskus ke Damietta

Cara bermisi Fransiskus ke Damietta-Mesir sangat berbeda dengan ‘cara bermisi’ Gereja waktu itu. Gereja pada waktu itu memasuki fase V dari Perang Salib. Tujuan utamanya adalah agar pusat-pusat kekristenan dikuasai. Jalan apapun ditempuh Gereja pada masa itu asal tujuan tersebut tercapai. Menjadi prinsip umum Gereja pada masa itu bahwa orang-orang muslim, bila tidak mau menjadi Kristen, lebih baik dibunuh. Cara bermisi Gereja dengan mengobarkan perang atau membunuh, yang pada masa kini mungkin dinilai ‘brutal’, sudah dimulai pada tahun 1905 yaitu Perang Salib I. Perang ini dipicu oleh pidato Paus Urbanus II. Serangkaian Perang Salib pun terjadi selama abad ke-12. pada tahun 1215, Paus Innocentius III merencanakan  Perang Salib yang baru yang dalam konsili akan diputuskan akan diwujudkan pada tahun 1217. Meskipun Paus Innocentius III meninggal pada 1216, rencana konsili tersebut direalisasikan oleh suksesornya, Paus Honorius III. Pada tahun 1218, laskar Perang Salib mendarat di Mesir dan mengepung Damietta. Entah dengan cara bagaimana, di tempat yang sama dan pada waktu yang sama, Fransiskus tiba di Damietta. Diduga, ia ikut entah secara resmi atau diam-diam dengan rombongan laskar Perang Salib. Yang hendak ia jumpai adalah tokoh yang menjadi musuh utama laskar Perang Salib yaitu Melek-el-Kamil (Sultan Melek yang Agung).

Fransiskus dan Melek-el-Kamil

Kisah perjumpaan Fransiskus dan Melek-el-Kamil dilaporkan oleh Jacques de Vitry yang bertemu dengan Fransiskus sebagai berikut:

Fransiskus berjalan dari Damietta menuju perkemahan sultan. Ia tanpa senjata. Di          tengah jalan, ia ditangkap oleh pasukan Islam dan dibawa ke hadapan sultan. Sultan         sendiri amat tepesona dengan penampilan Fransiskus dan mau mendengar khotbah           Fransiskus tentang Kristus. Akhirnya, sultan sendiri menjamin keselamatan           Fransiskus untuk kembali ke perkemahan laskar Perang Salib.

De Vitry, yang tentunya dipengaruhi oleh konsep teologis Gereja pada waktu itu, menambahkan bahwa sultan juga meminta Fransiskus untuk berdoa baginya agar ia mendapat wahyu Allah untuk memberitahukan iman manakah yang paling menyenangkan Allah. Sebenarnya Fransiskus dalam arti tertentu menantang sultan untuk ke luar dari struktur dan institusi-institusi manusia yang telah bertaut erat dengan keyakinan religius untuk sampai pada konteks iman yang murni. Walaupun sultan menolak hal tersebut, namun ada buah yang dialami baik Fransiskus maupun sultan dari dialog tersebut.

Buah-buah Dialog bagi Fransiskus dan bagi Sultan

Dialog antara Fransiskus dan sultan terjadi dalam suasana saling menghormati. Dialog tersebut adalah pertemuan dua pribadi yang diilhami oleh semangat courtesia-penghormatan dan perhatian akan martabat yang lain. Pertemuan dua pribadi tersebut sepenuhnya menjadi awal pertemuan roh, satu penghormatan timbal balik akan identitas orang lain lepas dari apapun keyakinan religius orang tersebut.

Adalah hal yang luar biasa bahwa sultan meminta Fransiskus mendoakannya agar Allah memberitahukan iman yang paling menyenangkan Allah kepadanya. Sikap terbuka seperti ini dalam konteks Perang Salib dan status Kamil sebagai sultan agung (Melek-el-Kamil), adalah mukjizat besar. Bagi Fransiskus sendiri, pengalamannya di Damietta sunggguh membuka cakrawala imannya. Ia sungguh tersentuh dengan sikap-sikap religius kaum muslim: panggilan untuk beribadat dengan azan, penghayatan terhadap Allah yang transenden, dan rasa hormat yang sangat dalam terhadap Kitab Suci Al-Qur’an. Pengakuan dan pengalaman ini diterapkan Fransiskus dan para saudaranya yakni menyembah Allah dengan bersimpuh serendah-rendahnya, mengajak orang-orang memuji Allah dengan lonceng, menghormati setiap huruf dalam Kitab Suci. Semua ini mengalir dari penghayatannya akan Allah yang sungguh transenden. Sebelum ke Damietta, Fransiskus sungguh digelorakan oleh keagungan imanensi Allah dalam inkarnasi Kristus. Setelah ke Damietta, penghayatannya akan Allah semakin lengkap. Ia digelorakan oleh keagungan transendensi Allah. Transendensi Allah diungkapkan oleh Fransiskus dalam doa-doanya seperti: Allah yang Mahatinggi, Allah yang Mahakudus, penuh kemuliaan, Mahaluhur, Mahakekal dan sebagainya. Dalam aturan hidup tahun 1221, tiga tahun setelah peristiwa Damietta, Fransiskus menulis demikian: ”Hanya Dialah Allah yang sejati, tak berawal dan berakhir. Ia tidak berubah, tak terlihat, tak tergambarkan dan tak terlukiskan, tak terpahami, tak terduga, yang paling mulia dan pantas untuk menerima segala pujian.” Penuturan yang bergaya apofatik ini sangat jelas menekankan transendensi Allah.

”Mari Pergi ke Damietta”

Sengaja saya pilih judul ini untuk mengungkapkan ajakan belajar berdialog dari peristiwa di Damietta. Pesan penting yang bisa dipegang dari peristiwa Damietta sebagai esensi dialog adalah sikap saling menghormati yang jujur dan keterbukaan untuk menghayati Allah yang satu secara lebih murni; yang tidak hanya berurusan dengan pemikiran manusia yang sering kali melilit iman, tetapi dengan realitas dasar yang berada di dasar keyakinan religus. Sultan dan Fransiskus saling mengakui makna dan kebenaran religius dalam keyakinan mereka masing-masing. Dalam aturan hidup tahu 1221, Fransiskus mengajak para saudaranya yang pergi ke kalangan orang muslim, menghindari pertengkaran dan perdebatan; memberi kesaksian atas iman Kristen mereka tidak dengan perdebatan teologis yang kerap buntu tetapi dengan kehadiran yang bersahaja, membawa damai dan kesediaan untuk melayani.

Dalam dialog di Damietta, sangat jelas tidak ada yang kalah. Kedua pihak keluar sebagai pemenang karena keduanya sama-sama berusaha untuk sampai pada pemahaman timbal balik akan sebuah kebenaran yang tertinggi. Fransiskus menjadi yakin bahwa Islam juga memiliki tempat tersendiri dalam rencana Allah. Sultan meminta Fransiskus untuk berdoa baginya, dan Fransiskus meminta agar orang Kristen bersatu dalam doa dengan orang-orang dari segala penjuru dunia.

Dialog seperti ini akan membuka jalan untuk meneruskan pertobatan kepada Yang Transenden. Dialog antaragama semestinya merupakan suatu proses konsientasi, dimana subjek-subjek yang berdialog dibangkitkan untuk memiliki kesadaran yang lebih besar atas keterlibatan mereka dalam hidup yang mengatasi semua perbedaan.

Penutup

Di dunia ini, ketika pengkotak-kotakan masyarakat berdasarkan agama terjadi, ketika sikap saling curiga mengemuka, ketika ’perang salib’ baru mulai dipicu, peristiwa Damietta sungguh memberi inspirasi yang aktual dan konkrit. Tidak ada kata ’tidak mungkin’ untuk membangun dunia yang damai; sebab hati yang merindukan kebenaran sejati dan kasih, selalu menemukan jalan, memberikan solusi yang mengatasi sekat-sekat pemisah. Tidak dapat disangkal, pada dasarnya,  semua manusia, dari kodratnya selalu merindukan Sang Kebenaran Sejati yang adalah Sang Kasih. ”Mari pergi ke Damietta !


[1] Sumber utama tulisan ini adalah karya Paul Rout, Fransiskus dan Bonaventura (Yogyakarta: Kanisius, 2001).

Posted April 5, 2010 by paulsaragih in Dialog Intrareligius

KEBAHAGIAAN ORANG TUA   Leave a comment

Pengantar

Tulisan ini merupakan upaya mendeskripsikan dan membandingkan isi kebahagiaan orang tua yang terdapat dalam tradisi Yahudi dan Batak Toba. Titik acuannya adalah sastra kebijaksanaan yang terpelihara dalam kedua tradisi tersebut. Referensi untuk tradisi Yahudi adalah Kitab Amsal sementara referensi untuk tradisi Batak Toba adalah umpasa-umpasa (pantun) yang terpelihara berkat tradisi oral yang kuat. Ada persamaan tetapi ada perbedaan.

1.Dunia Yahudi

1.1 Catatan Awal

Bagi orang Yahudi, peran orang tua amat besar dalam keluarga. Pertama, mereka merupakan pengajar pertama dan utama dalam keluarga. Sebagai pengajar pertama dan utama, orang tua tidak hanya mengajarkan etika hidup kepada anak-anaknya tetapi juga hikmat. Orang tua juga berperan meneruskan tradisi yang telah dihayati dari generasi ke generasi (seperti aneka ritus dan perayaan-perayaan). Kedua, orang tua merupakan penanggung jawab kelangsungan hidup anak-anak. Ketiga, orang tua merupakan saluran rahmat Allah. Karena perannya yang besar itu, rasa hormat seorang anak kepada orang tua sangat besar. Hal ini dilegitimasi dalam Sepuluh Perintah Allah dan direpetisi oleh seluruh Kitab Suci mereka dan dipelihara oleh komunitas Kristen perdana. (Lih. Kel. 20:12; Ul. 5:16; Mat. 15:4; 19:19; Mrk. 7:10; 10:19; Luk. 18:20; Ef. 6:2). Secara khusus, Kitab Amsal mencoba mengeksplisitkan sumber kebahagiaan orang tua dalam hubungannya dengan anaknya.

1.2 Gambaran Sintetis Sumber Kebahagiaan Orang Tua dalam Kitab Amsal

1.2.1 Anak mendengarkan didikan orang tua

Dalam kitab Amsal, seorang anak mesti mendengarkan didikan dan ajaran orang tuanya. Didikan dan ajaran orang tua tersebut dilukiskan sebagai karangan bunga yang indah bagi kepala dan kalung bagi leher si anak (1:8). Sikap mau mendengar ajaran dan didikan orang tua menjadi jalan bagi si anak untuk memperoleh pengertian tentang takut akan Allah dan mendapat pengenalan akan Allah (2:5). Mendengarkan dan memelihara ajaran dan didikan orang tua juga akan mendatangkan umur panjang bagi anak (3:1-2). Sikap mendengar ini harus disertai hati dan keyakinan si anak (23:26). Alasan seorang anak mendengarkan orang tuanya adalah keyakinan bahwa orang tua memiliki pengalaman hidup yang membentuknya menjadi seorang yang bijak dan memiliki ilmu yang benar (4:1-2). Sikap anak yang mau mendengar dan melaksanakan didikan dan ajaran orang tua akan mendatangkan kebahagiaan bagi orang tua dan sebaliknya, anak yang bebal hanya akan mendatangkan duka cita orang tua (17:21).

1.2.2 Anak bertindak benar, jujur dan bijak

Seorang anak yang mau mendengar didikan dan ajaran orang tua diharapkan akan bertindak benar, jujur dan bersikap bijak (10:1). Sikap benar, jujur dan bijak ini ditunjukkan oleh si anak dengan menjauhi kefasikan, kecurangan, dan ketidakadilan. Hal ini akan menuntunnya menuju hidup dan bukan kematian (11:17-21). Orang tua yang memilik anak yang bertindak benar, jujur dan bijak akan sangat berbahagia dan dihormati oleh orang lain (23:24-25).

1.2.3 Anak memperoleh nama baik

Dalam kitab Amsal diungkapkan bahwa nama baik lebih berharga daripada kekayaan yang besar dan dikasihi lebih baik daripada perak dan emas (16:8; 22:1). Nama baik diperoleh dari sikap murah hati dengan membagi rezeki pada orang miskin, berlaku adil dan mencintai kesucian (22:11). Orang tua akan berbahagia dan dihormati bila anaknya memiliki nama baik, saleh dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan keadilan (15:20; 22:24-25).

1.3 Rangkuman

Dari uraian singkat ini dapat dikatakan bahwa kebahagiaan orang tua dalam masyarakat Yahudi menurut kitab Amsal, amat tergantung dari bagaimana hidup anak tersebut. Penghormatan yang diterima orang tua sangat tergantung pada penghormatan yang diterima si anak dari masyarakat sekitarnya. Dalam hal ini, orang tua dalam masyarakat Yahudi seolah menampakkan apa yang dikatakan pepatah Latin: Corona mea vos estis (engkaulah mahkotaku). Anak adalah mahkota orang tua.

2. Dunia Batak Toba

2.1 Catatan Awal

Tidak jauh berbeda dari penghayatan orang Yahudi, peran orang tua dalam masyarakat Batak Toba juga sangat penting. Orang tua Batak Toba diyakini sebagai pengajar pertama dan utama, penerus tradisi dan saluran berkat Allah bagi anak-anaknya. Namun berbeda dari masyarakat Yahudi, sikap hormat anak terhadap orang tua dalam masyarakat batak Toba tidak dilegalisasi dalam bentuk hukum tertulis, tetapi berupa nasehat-nasehat yang tertuang dalam umpasa (pantun) atau umpama (perumpamaan). Beberapa hal yang menjadi sumber kebahagiaan orang tua Yahudi juga dihayati oleh masyarakat Batak Toba, tetapi ada juga penekanan yang berbeda.[1]

2.1.1 Sikap hormat anak pada orang tua

Sikap hormat anak pada orang tua cukup dipelihara dalam masyarakat Batak Toba. Nasehat-nasehat yang melukiskan hal tersebut kerap ditemukan dalam umpasa.

Tabuak manuk (ayam berkokok)

Di tarumbara ni ruma (di kolong rumah)

Halak na pantun marama (orang hormat kepada Bapanya)

I do halak na martua (adalah orang yang terberkati).

Dalam umpasa ini, sikap hormat anak pada orang tua bukan hanya untuk menyenangkan hati orang tua tetapi berdampak pada anak itu sendiri yaitu mendatangkan berkat.

2.1.2 Peran orang tua sebagai tempat mengadu

Seperti dalam masyarakat Yahudi, orang tua dalam masyarakat Batak Toba dihormati karena dianggap lebih bijaksana, lebih menguasai adat istiadat dan mampu menjawab aneka persoalan. Pendeknya orang tua menjadi tempat bertanya bagi aneka hal yang terungkap dalam umpasa berikut:

Tua ni marampang (untuk memiliki ampang)

Marpanggarugaruar (mempunyai siku penopang)

Tua ni na marama (untung yang berayah)

Marpangalualuan (mempunyai tempat mengadu).

Dari umpasa yang sering disampaikan pada saat seorang bapak meninggal ini dapat ditarik pesan agar anak-anak sungguh-sungguh mencintai orang tuanya secara khusus bapak sebab jika bapak tidak ada lagi hidup anak akan lebih susah dan terhambat.

Berbeda dari kitab Amsal, dari umpasa-umpasa di atas, belum eksplisit dikatakan bahwa orang tua akan berbahagia bila anak-anak menghormati mereka dan menjadikan mereka andalan. Tetapi tentulah sumber kebahagiaan orang tua ditentukan juga oleh sikap anak juga. Dalam umpasa-umpasa berikut, akan terang apa sebenarnya yang menjadi sumber kebahagiaan orang tua Batak Toba yaitu hagabeon.

2.1.3 Hagabeon

Secara hurufiah hagabeon berarti kemenjadian. Orang Batak Toba pada umumnya mengerti kata ini sebagai yang memiliki banyak keturunan. Ukuran hagabeon adalah keluarga besar dan usia lanjut sekaligus menjadi panutan masyarakat. Hal ini terungkap dalam umpasa-umpasa berikut:

Bintang na rumiris (bintang yang banyak)

Ombun na sumorop (awan yang bergumpal)

Anak pe riris (putera pun berjejer)

Boru pe torop (puteri pun banyak).

Dengke na ni dung i (ikan yang ditangguk)

Tabo tomburtomburan (enak jika dipanggang)

Sahat ma hamu gabe mauli bulung (semoga kalian sampai seindah daun)

Jala sipaihutihuton (dan menjadi contoh).

Lili ma di ginjang (lidi di atas)

Hodong ma ditoru (pelepahlah di bawah)

Riris ma jolma di ginjang (banyaklah orang di atas)

Torop ma pinahan di toru (Banyaklah ternak di bawah).

Dari umpasa-umpasa ini, nyata bahwa keturunan yang banyak dan umur yang panjang merupakan idaman setiap orang Batak Toba. Pesan hagabeon ini menggambarkan harapan putera-puteri yang banyak, usia lanjut bagaikan daun yang gugur setelah tua, menjadi panutan, dan memiliki ternak yang banyak menjadi syarat untuk dapat meraih hagabeon. Secara eksplisit, terungkap dalam umpasa berikut:

Sai tubuan laklak ma (semoga tumbuhlah kulit)

Tubuan singkoru (tumbuh jali-jali)

Sai tubuan anak ma hamu (semoga banyak putera kalian peroleh)

Tubuan boru (dan juga memperoleh puteri).

Andor halumpang (sulur halumpang)

Togutogu ni lombu (penuntun lembu)

Sai saur matua ma ho (semoga uzur usiamu)

Paabingabing pahompu (menimang-nimang cucu).

Semua ungkapan ini yang dianggap sebagai doa dan harapan, lazim dipakai pada saat pesta nikah. Dalam kehidupan harian, ungkapan ini jarang terdengar.

3. Kesimpulan

Dari uraian singkat di atas, terlihat bahwa ada kesamaan sekaligus perbedaan tekanan tentang sumber kebahagiaan orang tua dalam masyarakat Yahudi dan Batak Toba. Dalam masyarakat Yahudi, orang tua akan berbahagia bila anaknya mau mendengar ajaran dan didikan mereka, menjadi orang yang baik, bijak dan jujur walau tidak kaya. Bagi masyarakat Batak Toba, hal ini, walau ada tetapi kurang ditonjolkan dalam umpasa-umpasa yang bisa saya temukan. . Kebahagiaan orang tua justru semakin besar bila anaknya banyak, umurnya panjang dan bisa melihat keturunannya. Walau demikian, harus tetap dicatat bahwa pada dasarnya, ketiga nilai budaya Batak Toba yakni hamoraon (kekayaan), hagabeon (banyak keturunan), dan hasangapon (kehormatan) juga menjadi cita-cita masyarakat Yahudi (lih. Ams. 22:4).


[1] Patut diketahui bahwa terdapat 9 nilai budaya yang dihayati masyarakat Batak Toba. Kesembilan nilai budaya ini dirumuskan berdasarkan analisa atas 300 ungkapan tradisi dan penghitungan kata-kata serta frekwensi pemakaiannya. Berdasarkan urutannya kesembilan nilai budaya tersebut yakni: kekerabatan (34,33%), religi (17,25&), hagabeon (12,32%), hukum (12,25%), kemajuan (6,87%), konflik (5,28%), hamoraon (4,58%), hasangapon (3,75%), pengayoman (3,52%).

Posted April 5, 2010 by paulsaragih in Artikel Rohani

Hello world!   1 comment

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted April 5, 2010 by paulsaragih in Uncategorized

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.