Menilik Persoalan Teologis Di Paroki St. Fransiskus Assisi-Palipi Rentang 2008-2009

  1. 1. Hantaran

Tulisan ini diawali dengan sebuah deskripsi singkat tentang situasi sosial umat Katolik di Paroki St. Fransiskus Assisi-Palipi. Saya, lewat pengalaman pastoral selama menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di paroki ini (02 Agustus 2008-05 Juli 2009), mencoba merangkumkannya seraya menilik persoalan-persoalan teologis apa yang hidup di tengah-tengah umat. Dari banyak tema, saya memilih enam poin yang cukup mengemuka.

  1. 2. Situasi Palipi: Selayang Pandang

Dalam tata pemerintahan, Palipi termasuk ibu kota kecamatan. Palipi terletak di sebelah barat Pangururan. Pangururan sendiri merupakan ibu kota Kabupaten Samosir. Seperti pada umumnya Pulau Samosir, keadaan topografis kecamatan Palipi berupa pebukitan, lembah dan daerah pantai. Walaupun demikian, terdapat tanah datar di puncak-puncak pebukitannya. Penyebaran penduduknya pun tidak merata. Umumnya, daerah pantai berpenduduk padat karena di samping dekat dengan sumber air yakni Danau Toba, juga dekat dekat jalan utama Samosir. Semakin ke daerah perbukitan, pemukiman penduduk semakin jarang.[1] Masyarakat Palipi cukup homogen baik dari segi mata pencaharian, pendidikan, budaya dan suku. Kemajuan tidak begitu terasa di Palipi, termasuk pembangunan, pendidikan, kesehatan. Mobilitas penduduk dan arus perdagangan yang tidak begitu tinggi sangat berpengaruh pada aktivitas masyarakatnya.

Aktivitas penduduk kurang bervariasi karena situasi yang cukup homogen. Pada umumnya, kaum pria menghabiskan waktu luangnya di lapo tuak/kopi sementara kaum wanitanya ngerumpi. Sisi positif dari situasi ini ialah bahwa tradisi (budaya) cukup terjaga. Hal ini didukung oleh attensi masyarakat yang begitu tinggi pada budaya khususnya masalah parjambaran, tarombo (silsilah), tanah dan sebagainya. Pengetahuan tentang hal ini cukup merata di kalangan orang tua bahkan kaum muda.

  1. 3. Paroki St. Fransiskus Asisi-Palipi: Selayang Pandang

3.1. Sejarah Kekatolikan

Palipi, tepatnya Desa Simbolon, merupakan tempat pertama misionaris Katolik menjejakkan kakinya di Pulau Samosir. P. Chrysologus Timmermans, OFMCap.,  adalah misionaris itu. Pada tahun 1 April 1936, P. Diego van den Biggelar, OFMCap., menetap di Desa Simbolon. Pada tahap awal, beberapa kesulitan yang cukup berarti datang menghadang. Ajaran Katolik yang diwartakannya tidak gampang masuk ke dalam hati orang Batak Toba karena ajaran Protestan sudah lebih dahulu berkembang.[2]

3.2.   Militansi Kekatolikan

Mayoritas penduduk kecamatan Palipi beragama Katolik. Namun secara faktual, entah fenomena ini menggerogoti semua agama, jumlah umat yang hadir dalam ibadat sabda hari Minggu di gereja Katolik di 32 stasi cukup memprihatinkan. Rata-rata presentasi kurang dari 50 % dari keseluruhan jumlah umat dan didominasi oleh kaum hawa khususnya ibu-ibu. Dalam rapat paripurna yang diadakan pada 11-13 Januari 2009 dan Presidium I pada 7-8 Juni 2009, disimpulkan bahwa militansi kekatolikan semakin lemah. Tingkat pengetahuan umat dan juga pengurus gereja, rendah. Di satu sisi, umat mengaku bangga sebagai Katolik tetapi di sisi lain, sebagian umat gampang pindah agama hanya karena alasan sepele seperti sakit hati atau kecewa.

3.3.   Karya Pastoral

Secara umum, karya-karya pastoral di paroki ini masih tergolong konvensional. Hal ini merupakan konsekwensi logis dari situasi umat yang sangat homogen baik dari segi suku, pekerjaan, pendidikan dan sebagainya. Pada saat ini, bentuk-bentuk karya pastoral baru mulai diperlukan walaupun belum begitu mendesak seperti pendampingan untuk pasutri atau guru-guru. Walaupun demikian, tokh pastor bersama DPP terus berpikir dan mencari bentuk-bentuk pastoral lama yang disampaikan dengan cara/rasa baru untuk meningkatkan geliat hidup menggereja.

4. Enam Masalah Teologis di Paroki Palipi dan sekitarnya

4.1.   Isu Begu Ganjang

Isu begu ganjang sudah tidak asing lagi dalam masyarakat Batak Toba. Sebelum saya mengakhiri masa TOP di Paroki St. Fransiskus Assisi-Palipi, isu begu ganjang marak lagi, tepatnya di Palipi sendiri, Panahatan dan Rianiate. Latar belakang maraknya isu ini adalah persoalan tanah (di Panahatan), kecemburuan sosial (di Palipi), kematian mendadak beberapa orang (di Rianiate). Situasi ini bukan hanya sekedar persoalan sosial, politis atau kultural tetapi merembes ke persoalan iman, ketika umat Katolik sendiri mempertanyakan kekuatan doa, kekuatan Roh Kudus dan kekuatan benda-benda suci seperti rosario, air suci, salib dan sebagainya berhadapan dengan situasi ini.

Bila merujuk pada sejarah, sebelum kekristenan masuk di Samosir, kepercayaan animis cukup kuat dalam masyarakat. Ternyata, walaupun kekristenan khususnya Katolik di Samosir akan berumur 75 tahun (1935-2010), kepercayaan tersebut masih mewarnai konsep religius masyarakat Samosir secara khusus Palipi. Bila dipandang secara kritis, timbul-tenggelamnya isu begu ganjang sangat dipengaruhi oleh situasi sosial yang kompleks. Gereja Katolik di Palipi sungguh ditantang dalam menghadapi situasi ini. Katekese-katekese sungguh diperlukan termasuk aneka kegiatan pendalaman iman.

4.2.   Doa dan Harapan

Pada umumnya, masyarakat Palipi dan sekitarnya hidup dari pertanian tradisional. Amat sering terjadi, jika kemarau panjang melanda, banyak umat memanjatkan doa entah dalam keluarga, dalam doa lingkungan atau saat di gereja, agar hujan turun. Jika hujan tidak turun, dapat dipastikan bahwa panen akan gagal. Saat-saat seperti ini sungguh menantang iman mereka. Pertanyaan sering muncul dari mereka: “Mengapa doa-doa yang kami sampaikan tidak dikabulkan Tuhan? Apakah Tuhan itu sungguh-sungguh pemberi dan pemelihara kehidupan? Jika ‘Ya’ mengapa Ia tidak menurunkan hujan agar kami dapat makan dan anak-anak kami dapat sekolah?”

Bagi saya, persoalan ini memang sungguh menantang. Doa adalah suatu misteri. Di dalamnya keyakinan kita pada kekuasaan Tuhan diuji. Dua sikap bisa timbul bila berbicara tentang doa: menjadi semakin beriman karena doa dialami mempunyai kekuatan atau menjadi tidak beriman dan apatis terhadap Tuhan sehingga memandang doa sebagai fantasi. Jawaban dari keluhan umat tersebut kembali pada pengalaman eksistensial pribadi yang bersangkutan. Aneka katekese bisa membantu sejauh hati mereka terbuka.

4.3.   Penindasan

Persoalan tanah adalah persoalan yang kompleks di Samosir. Bila menoleh ke belakang, pemilik tanah adalah satu keluarga atau lebih yang pertama membuka suatu perkampungan (si pungka huta). Luas areal yang menjadi miliknya adalah sejauh mata memandang. Kaum pendatang yang tinggal di suatu kampung tidak mempunyai hak milik tetapi hak pakai. Oleh karena itu, status penumpang memang amat lemah. Si pungka huta atau keturunannya dapat dengan mudah mengusir mereka bahkan dengan alasan yang terkadang amat sepele dan pribadi.

Sistem lama ini masih berlangsung hingga sekarang. Pada kenyataannya, situasi ini membuat keluarga-keluarga penumpang berada dalam posisi lemah, terancam, tidak pasti, terjepit dan tertindas. Persoalan sosial ini dapat dipandang sebagai persoalan teologis ketika mereka yang merasa ditindas bertanya: “Kemana kami harus pergi dan berlindung?” Pemerintah bahkan gereja yang statusnya cukup dihargai oleh masyarakat terkadang tidak dapat berbuat banyak menghadapi situasi ini. Di sini, Gereja Katolik, khususnya harus menjadi pengayom bagi mereka yang tertindas dan menderita akibat ketidakadilan. Tambahan lagi, Gereja harus lebih keras bersuara atas ketidakadilan dan kesemena-menaan ini.

4.4.   Kepecayaan pada hal-hal magis (takhyul)

Entah karena termasuk daerah ‘tertinggal’, mayarakat Palipi termasuk, sebagian besar umat Katolik, sangat percaya pada hal-hal magis dan takhyul. Mereka percaya bahwa di tempat-tempat tertentu, oleh roh-roh jahat. Penyakit tertentu kerap diyakini sebagai ulah roh-roh jahat. Itu sebabnya, praktek perdukunan masih cukup laris di sana. Hal-hal ini semakin ditanamkan dalam diri anak-anak lewat cerita-cerita dan larangan-larang orang tua.  Bahkan larangan untuk tidak lewat pada tempat tertentu pada waktu tertentu disampaikan kepada pastor atau frater yang bertugas di Palipi.

Lewat fenomena ini, timbul pertanyaan, seberapa dalam iman kekatolikan telah tertanam dalam hati umat Katolik di Palipi? Seberapa kuat janji baptis untuk menolak hal-hal takhyul telah meresapi umat? Walau demikian, tetap harus disadari bahwa mengubah pola pikir atau keyakinan sangat sulit. Tingkat pendidikan umat yang rendah,  mobilitas yang kurang dan pergaulan yang sempit membuat kepercayaan tradisional masih tetap tertanam.

4.5. Takdir atau Nasib

Orang Batak primitif meyakini bahwa takdir atau nasib seseorang sudah ditentukan sebelum ia lahir. Nasib itu ditentukan atau dipilih oleh jiwa orang itu sendiri ketika masih berada di dunia atas (banua ginjang). Kiranya keyakinan ini masih dihidupi oleh umat Batak Toba-Katolik masa kini di Palipi. Ungkapan umat seperti: “On do bagianhu” (inilah takdirku); “Ai ndang turpukta hamoraon” (menjadi orang kaya bukan nasib kita) memperkuat hal ini.

Bagi saya, pola pikir seperti ini tergolong dualisme seperti halnya dalam filsafat Plato. Hal ini juga tampak dari keyakinan bahwa jiwa (tondi) dan badan adalah dua hal yang terpisah dalam diri manusia. Di samping itu, pola pikir umat ini mengingatkan saya akan ajaran Protestan tentang predestinasi. Tentu persoalan ini sudah masuk dalam ranah teologis. Bukan perkara gampang mengubah pola pikir dan keyakinan yang telah diwariskan sedemikian lama. Namun, usaha mesti dibuat agar umat sungguh mengerti dan mengimani ajaran Katolik yang benar.

4.6. Gereja dan gereja

Saat ini, umat Katolik di Paroki Palipi secara khusus, dan di tanah Batak pada umumnya, masih getol-getolnya mengusahakan pembangunan atau renovasi gedung gereja.  Bagi mereka, gedung gereja menjadi identitas kekatolikan. Ada kebanggan tersendiri di kalangan umat atau pengurus gereja bila gedung gereja berhasil dibangun atau direnovasi. Tentu sikap ini tidak dapat disalahkan seratus persen. Namun yang menjadi soal yakni bahwa perhatian tinggal pada hal tersebut dan melupakan pembangunan Gereja yang sesungguhnya yakni umat Allah sendiri.

Seperti sudah disinggung sebelumnya, kerajinan umat untuk berkumpul, berdoa bersama dan merayakan liturgi, entah pada hari Minggu atau di lingkungan (lunggu) cukup memprihatinkan. Bagi saya, ini bukan persoalan pastoral belaka tetapi sudah memasuki ranah teologis (Eklesiologi). Umat tidak sampai pada pemahaman bahwa Gereja adalah misteri dan sakramen, suatu persekutuan yang hidup yang diikat oleh iman akan misteri Paskah Kristus.

  1. 5. Penutup

Menarik mengerjakan tulisan seperti ini. Bagi saya, ini merupakan tahapan awal untuk memasuki studi teologi dengan harapan bahwa saya tidak sekedar belajar teologi saja tetapi sungguh mampu berteologi secara kontekstual dimanapun saya berada. Saya semakin sadar bahwa teologi bukan mata kuliah yang beku, dingin dan mati tetapi sungguh hidup dan mengena. Oleh karena itu, kepekaan akan situasi sosial dan luasnya cakrawala tentang ilmu-ilmu lain seperti sosiologi, psikologi, dan terutama filsafat menjadi sesuatu yang niscaya untuk berteologi.


[1] Walaupun demikian, setiap jengkal tanah tersebut dimiliki oleh, atau sebuah keluarga atau sekelompok marga. Persoalan tanah di Samosir sangat pelik sekaligus menarik untuk diteliti lebih serius. Perihal tanah mempunyai andil besar dalam pembentukan tata sosial dan pola pikir masyarakat Samosir. Kecamatan Palipi secara geografis agak tertutup bila dibandingkan dengan Kecamatan Ambarita, Kecamatan Nainggolan, maupun Pangururan. Palipi bukanlah pusat perdagangan seperti halnya Tomok yang dekat dengan Parapat atau seperti Nainggolan yang dekat dengan Balige, atau Pangururan yang menjadi pusat pemerintahan perdagangan dan pendidikan.

[2] Sejarah mencatat bahwa pada masa-masa awal cukup banyak masyarakat yang beragama Parmalim menjadi umat Katolik dan tak sedikit pula yang berasal dari agama Protestan. Pada awalnya, rumah sakit, sekolah dan juga semangat para misionaris menjadi daya tarik utama masuk agama Katolik. Pada masa awal ini, katekese sangat kurang. Namun fanatisme kekatolikan sangat kuat karena persaingan antara agama Protestan dan Katolik terasa. Pada masa kini, faktor-faktor tersebut tidak begitu menggema. Orang-orang yang masuk Katolik umumnya karena perkawinan mixta religio.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s